Jumat, 10 April 2009

Pemilu Legislatif usai, menuju Pilpres 2009

Pemilu Legislatif telah selesai dilaksanakan. Tanpa menunggu hasil perhitungan final KPU, dari berbagai quick count sudah dapat diketahui bahwa Partai Demokrat menduduki nomer 1 dalam perolehan suara. Apa arti kemenangan Partai Demokrat ini? Ini adalah pesan yang sangat jelas bahwa rakyat menghendaki agar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tetap diberi kepercayaan sebagai presiden untuk 5 tahun lagi. Logikanya sederhana, supaya SBY bisa maju lagi dalam Pilpres mendatang kita berikan suara sebanyak-banyaknya ke Partai Demokrat.

Dengan perolehan suara sebesar 20 % lebih, SBY sebetulnya bisa maju sendiri sebagai Capres tanpa dukungan partai-partai lain. Tetapi untuk kestabilan politik dimasa mendatang SBY perlu berkoalisi dengan partai lain. Koalisi bukan hanya sekedar untuk mencari Cawapres, tetapi juga untuk membentuk pemerintahan yang kuat mengingat sangat dominannya peran DPR di stelsel ketatanegaraan kita sekarang ini. Artinya, hasil koalisi ini nantinya juga akan membuat pemerintah kuat di DPR.

Koalisi dengan siapa?

Untuk membentuk pemerintahan yang kuat ada dua partai besar yang sangat efektif untuk digandeng, yaitu : PDIP dan Golkar. PDIP jelas tidak mungkin karena kubu Megawati nampaknya sudah patah arang dan menyatakan SAY NO TO SBY, dan memilih lebih baik jadi oposisi daripada berkoalisi dengan SBY. Jadi, pilihan tinggal pada Golkar. Golkar adalah partai yang sangat berpangalaman dan mempunyai infrastruktur politik dan birokrasi yang kuat sampai ke daerah-daerah. Jelas SBY membutuhkan Golkar, walaupun tidak harus Jusuf Kalla (JK). Perolehan suara Golkar yang berada dibawah PDIP menunjukkan bahwa figur JK ternyata tidak mampu menggaet suara rakyat. Berbeda dengan PDIP yang tidak mempunyai kader-kader pemimpin yang kuat, Golkar kaderisasinya termasuk bagus. Banyak tokoh-tokoh Golkar yang layak memimpin partai yang besar ini maupun layak maju sebagai pemimpin negara ini. Ada Akbar Tanjung, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Sri Sultan X, Agung Laksonso, untuk menyebut beberapa diantaranya. Dari beberapa nama diatas saya pribadi menilai hanya Sri Sultan yang paling pas mendampingi SBY. Tapi Sri Sultan kan juga ingin jadi Presiden. Masalah lain, mungkinkah salah satu figur ini maju sebagai Cawapres mewakili Golkar mengingat JK sudah menyatakan maju sebagai Capres dari partai yang sama.

Kalau Golkar tidak mungkin, maka masih ada PKS, PAN, PPP atau PKB yang bisa diajak koalisi. Tetapi menurut saya tidak Gerindra atau Hanura.

Bagaimana nasib JK?

Sebagaimana SBY, JK-pun perlu berkoalisi dengan partai lain untuk bisa maju sebagai Capres. Apalagi perolehan suara Golkar dibawah 20 %. Beberapa waktu yang lalu, sebelum Pemilu, nampak tanda-tanda pendekatan Golkar-PDIP. Kalau betul-betul JK akan berkoalisi dengan Megawati, sekarang posisi tawar JK tidak kuat lagi mengingat perolehan suara Golkar dibawah PDIP. Jadi JK harus bersedia maju sebagai Cawapres. Kalau hanya sebagai Wapres, mengapa dulu harus pisah dari SBY. Kans untuk tetap jadi Wapres masih tetap besar dengan terus berduet dengan SBY dibanding kalau maju sendiri dengan Megawati. Rakyat sudah merasakan bagaimana Mega memimpin negara ini selama 3 tahun. Menurut saya enough is enough.

Dengan tetap menjadi Wapres-nya SBY kesempatan untuk maju sebagai Capres di tahun 2014 cukup besar(kalau tidak dianggap terlalu tua), mengingat dia tidak harus bersaing dengan incumbent.

Selasa, 24 Februari 2009

Warung kopi Aceh

“Jangan lupa mampir ke warung kopi Aceh…”, itu pesan dari teman-teman ketika mendengar saya akan ke Aceh. Akhir tahun lalu sampai Maret 2009 saya sempat tinggal, atau lebih tepatnya bekerja, di Banda Aceh. Saya dikontrak Asian Development Bank (ADB) selama 4 bulan, sebagai konsultan menggarap proyek pengembangan Bank BPD Aceh. Saya sudah beberapa kali ke Aceh, baik waktu masih di BRI maupun ketika bertugas di Dana Pensiun BRI. Terakhir saya ke Aceh tahun 2005, bersama-sama Pak Sardjono (Ketua Umum PB PP-BRI waktu itu), Pak Sudarmanoe, Pak Petrus Sarwoko (alm), dalam rangka memberikan bantuan dan santunan kepada pensiunan BRI yang menjadi korban tsunami. Pada waktu itu Banda Aceh masih porak poranda, belum banyak bangunan yang direhabilitasi. Sudah banyak LSM, NGO, dan Lembaga Donor Internasional yang berdatangan di Aceh, namun mereka baru pada tahap penelitian, belum mulai membangun.

Sekarang Banda Aceh sudah jauh berbeda, semakin cantik dan kegiatan ekonominya semakin menggeliat. Hampir tidak terlihat sisa-sisa bekas tsunami. Mobil-mobil baru berseliweran di jalan-jalan yang mulus. Toko-toko lama sudah direhabilitasi dan ratusan ruko-ruko baru dibangun. Dulu agak kesulitan kalau mau makan, karena hanya satu dua restoran saja yang buka. Sekarang cari makanan apa saja ada. Masakan Cina, Barat, Padang, Ayam Bakar Wong Solo, Pondok Raja Kuring, Ayam Penyet Surabaya, dan tentu saja puluhan restoran spesifik Aceh. Namun yang paling mencolok adalah banyaknya warung-warung kopi baru bermunculan disetiap sudut kota. Bahkan saking banyaknya warung kopi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), negeri ini sering disebut sebagai negeri dengan sejuta warung kopi.

Warung atau restoran?

Warung kopi Aceh tidak sama dengan warung kopi ditempat-tempat lain. Jika diajak minum kopi di Aceh, jangan membayangkan warung kopi seperti Starbucks, Espresso, atau the Coffee Bean. Warung kopi di Aceh lebih tepat disebut sebagai warung makan. Hidangan utama memang kopi dan berbagai jenis makanan ringan khas Aceh. Namun bagi yang memang lapar bisa juga memesan makanan berat seperti : nasi gurih, nasi goreng, mi Aceh, mi bakso, sate, martabak. Untuk makanan berat ini umumnya tidak dimasak oleh pemilik warung, tapi disediakan oleh padagang dorongan yang bergabung dengan warung kopi tsb. dengan sistim bagi hasil.

Kios-kios dan toko-toko, juga warung kopi, di Aceh umumnya dibangun tidak persis dipinggir jalan, tetapi agak masuk kedalam. Jadi rata-rata mempunyai halaman depan yang cukup luas untuk menaruh puluhan meja dan kursi. Mejanya kecil dan pendek, dengan empat kursi plastik yang juga pendek dengan posisi agak menyandar kebelakang. Pada awalnya saya agak heran, dimana enaknya duduk dikursi pendek sambil minum atau makan. Namun setelah saya coba, memang ini kursi yang paling cocok untuk minum kopi. Ibaratnya sekali duduk minum kopi lupa berdiri. Sambil menikmati kopi, dimeja disuguhi berbagai jenis kudapan khas Aceh yang mayoritas rasanya manis.

Rasa kopi yang khas

Saya sendiri, untuk alasan kesehatan, sebetulnya sedang dalam proses mengurangi konsumsi kopi, malah kalau bisa berhenti sama sekali. Di rumah saya minum decafinated instant coffee (kopi tanpa cafein). Tetapi setelah mencicipi kopi Aceh nampaknya susah mau berhenti. Kopi Aceh umumnya dari jenis Arabica, dan menurut orang-orang sana, katanya waktu memproses dicampur sedikit mentega. Dan untuk memperoleh rasa yang khas, cara penyajiannya pun berbeda. Kebanyakan kita membuat kopi dengan menaruh beberapa sendok kopi di cangkir kemudian diseduh dengan air panas. Kopi Aceh diseduh langsung dalam air mendidih dan dibiarkan mendidih selama 2 atau 3 menit. Sebelum dituang kedalam gelas tutup rapat-rapat beberapa saat supaya aromanya tidak kemana-mana tetapi kembali masuk kedalam air kopi. Kopi Aceh umumnya dibuat tidak terlalu manis, sehingga terasa sangat pas ditemani kudapan khas Aceh yang serba manis.

Fungsi warung kopi

Di NAD, telah menjadi tradisi bagi kaum prianya untuk menikmati kopi di warung-warung. Bahkan di jam-jam kantor pun, banyak juga para pekerja melewatkan waktunya di sini. Bagi kaum lelaki Aceh, warung kopi tidak hanya sekedar tempat untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan khas Aceh lainnya, namun telah berkembang dengan fungsinya yang lebih luas, seperti fungsi sosial, yaitu sebagai tempat memperkuat silaturahim antar kelompok atau antar sahabat; fungsi politik, sebagai tempat diskusi isu-isu politik dan pemerintahan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional; fungsi ekonomi, yaitu sebagai tempat pertemuan untuk melakukan lobi-lobi bisnis.

Ngopi juga sudah menjadi sarana hiburan dan bagian dari life style masyarakat Aceh. Nongkrong berlama-lama sambil ngobrol kesana lemari walaupun hanya membeli secangkir kopi sudah menjadi pemandangan umum. Mehreka gemar berkumpul bersama dan aktivitas yang dilakuk.an adalah ngopi. Yah, maklum saja, provinsi ini menerapkan hukum syariat Islam, jadi tempat hiburan malam pun tak banyak di sana. Bahkan bioskop pun tidak ada. Jadilah warung-warung kopi itu menjadi wadah untuk ajang temu dengan kawan, relasi bahkan kumpul keluarga

Kopi, rokok dan wanita.

Prosentase orang yang merokok di Aceh barangkali yang paling tinggi dibanding dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Dimana-mana orang merokok, tidak terkecuali di warung kopi. Mungkin agak susah bagi Pemda untuk mengeluarkan “qanun” (peraturan daerah) tentang larangan merokok ditempat-tempat tertentu. Apalagi melarang merokok di warung kopi, karena kopi dan rokok hampir tidak dapat dipisahkan. Salah satu faktor yang membuat saya tidak terlalu sering ke warung kopi ialah karena saya paling tidak tahan bau asap rokok. Biasanya saya mencari tempat duduk yang diluar agak dipinggir, sehingga bau rokok ternetralisir oleh tiupan angin.

Kalau rokok sudah identik dengan warung kopi, sebaliknya, wanita hampir tidak pernah ditemukan nongkrong di warung kopi. Saya pernah menanyakan ke beberapa wanita Aceh kenapa tidak ada wanita mampir ke warung kopi. Mereka menjawab : “Tidak ada larangan sih pak, cuman rasanya kurang elok dipandang karena warung kopi kan isinya laki-laki semua.” Jadi ada semacam bias jender. Padahal para wanitanya juga suka minum kopi. Saya kurang tahu apakah kalau kita coba membuka warung kopi khusus untuk wanita akan ada pengunjungnya atau tidak.

Ngopi dimana?

Walaupun begitu banyak warung kopi di Banda Aceh, tetapi rasanya belum afdol kalau belum nyoba di kopi Ulee Kareng di warung kopi “Jasa Ayah” yang terletak di Jl. T Iskandar no 13-14a, Kec Ulee Kareng, Banda Aceh. Jangan membayangkan sebuah restoran yang bersih dan serba mewah. Tempatnya sangat sederhana, malahan terkesan sedikit kumuh. Warung ini sangat popular dan selalu dipenuhi pengunjung dari pagi hingga malam hari. Warung kopi yang sudah ada sejak tahun 1958 ini tidak hanya popular di Aceh tetapi juga keseluruh Indonesia. Pasca tsunami, dengan banyaknya pekerja asing yang berdatangan ke Aceh, kepopuleran “Jasa Ayah” bahkan merambah sampai ke manca negara.

Warung kopi lain yang tidak kalah populernya adalah warung kopi SMEA, yang terletak di Jl . P Nyak Makam. Warung yang awalnya Kantin milik SMEA I ini sekarang telah menjadi warung publik dan dikelola secara professional. Saya sendiri lebih suka di SMEA, karena disamping kopinya tidak terlalu berat juga pilihan makanan kecilnya banyak dan lebih bervariasi. Favorit saya dadar gulung fla duren , pisang goreng gula merah, dan kue sarikaya.



Senin, 23 Februari 2009

Surat untuk Golkar : JK Capres untuk 2014 saja

GOLKAR maju dengan Capres sendiri
Sampai beberapa saat yang lalu belum terlihat apakah GOLKAR akan maju dengan Capresnya sendiri atau tidak. Mungkin menunggu sampai Pemilu Legislatif. Kalau hasilnya bagus mungkin maju sendiri. Ketika JK menolak sistem "Konvensi nasional" untuk memilih Capres, saya langsung menangkap bahwa sang Ketua Umum akan maju sendiri. Sebab kalau melalui konvensi belum tentu JK yang kepilih. Masih banyak kader-kader Golkar lain yang juga potensial. Sayang, sebetulnya sistem konvensi ini memberi citra bahwa Golkar partai yang maju sekali. Partai-partai lain belum ada yg berani menggunakan sistem konvensi.
Pernyataan Mubarok, salah satu ketua Partai Demokrat, yang menyatakan kalau Golkar hanya memperoleh 2,5 % suara di pemilu nanti maka Partai Demokrat akan mencari Cawapres yang lain nampaknya membuat berang seluruh jajaran Partai Golkar. Golkar sebagai partai yang besar tersinggung, hingga memutuskan akan maju dengan calonnya sendiri. Pengarahan Surya Paloh, Ketua Dewan Penasehat Parati Golkar, bahwa Golkar masih mempunyai calon internal yang potensial nampaknya juga membuat JK tersinggung, sehingga memutuskan untuk menerima penacalonannya sebagai Capres. Saya melihat move Golkar ini agak terburu-buru dan emosioanal.

Kans SBY terpilih lagi
Sebagai incumbent SBY mempunyai banyak keuntungan. Apa yang dikatakan , apa yang dikerjakan sehari-hari bisa jadi bahan kampanye. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh calon-calon yang lain. Dari penurunan harga BBM, peresmian proyek-proyek sampai perayaan Cap Go Meh, bisa diatur untuk kepentingan politiknya. Jadi, kalau lawannya masih orang-orang lama, seperti : Megawati, Gus Dur, Wiranto, Sultan X, Akbar Tanjung, dan juga JK, pasti SBY yang kepilih lagi.
Megawati adalah masa lalu. Megawati tidak pernah melakukan komunikasi politi dengan baik. Rakyat tidak pernah tahu apa maunya Mega sebagai presiden, karena dia tidak pernah "bicara". Munculnya Megawati sebagai pemimpin lebih banyak didorong oleh faktor kasihan, karena dia sering di-zalimi, baik pada saat jamannya Pak Harto maupun waktu pemerintahan Gus Dur. Sama seperti mencuatnya nama SBY dulu, setelah rakyat merasa dia telah di-zalimi Megawati. Itulah psikologi atau sinetorn politik.
Bagaimana dengan Gus Dur? Salah satu kebodohan bangsa ini ialah telah memilih Gus Dur sebagai presiden. Kalau Gus Dur berbuat yang aneh-aneh itu bukan salah Gus Dur, tetapi salah yang memilih. Kita semua siudah tahu bahwa Gus Dur orangnya aneh dan penuh kontraversi.

Jadilah Wapres yang baik
Jadi, menurut saya untuk Pilpres mendatang JK sebaiknya maju sebagai pendamping SBY atau wapres saja, Untuk 5 tahun mendatang tunjukakan bahwa JK memang Wapres yang baik, bisa bekerja sama dengan Presiden, tulus dan loyal. Karena selama ini kesan rakyat JK tidak dapat bekerjasama dengan SBY. Untuk 5 th kedepan JK mempunyai kesempatan untuk memperbaiki citranya dan membuktikan bahwa bisa menjadi Presiden yang baik.


Capres tahun 2014
Nah untuk Pemilu 2014 baru JK maju sebagai Capres. SBY sudah tidak mungkin mencalonkan lagi, JK mempunyai banyak kesempatan untuk kampanye dan merebut simpati rakyat. Daripada maju sebagai Capres, terus kalah, nanti malah jabatan wapres juga hilang.
Tapi itu lebih banyak untuk kepentingan JK sebagai pribadi. Golkar sebagai partai besar tentu punya pendapat lain. Itu juga kalau tidak ada Calon-calon lain Golkar yang mau maju sebagai Capres. Akbar Tanjung saya kira ingin juga maju sebagai Capres.

Kamis, 18 September 2008

Menonton film-film lama

Salah satu hobi saya adalah nonton film. Hobi ini sudah saya lakukan sejak kecil dulu sampai sekarang. Kalau dulu setiap kali nonton harus pergi ke gedung bioskop, sekarang cukup di rumah saja dengan menonton di TV. TV kabel menawarkan saluran yang khusus memutar film non-stop 24 jam. Sampai tahun 60-an, sebelum ada TV, hiburan yang ada hanya radio dan film. Memang ada pertunjukan wayang orang atau ketoprak, tapi daya tariknya masih kalah dibanding film. Program favorit radio adalah pilihan pendengar dan siaran radio tonil wayang orang atau ketoprak. RRI, satu-satunya stasiun radio pada waktu itu, memang menyiarkan juga lagu-lagu barat, tapi untuk mendengarkan lagu-lagu yang terbaru harus menyetel ke Radio Australia, BBC, atau Radio Hilversum Nederland. Tidak semua radio bisa menangkap siaran radio luar negri.

Lakon ketoprak yang pernah meledak adalah serial Djoko Sudiro yang disiarkan RRI Jogyakarta dan diperankan oleh pemain yang sangat legendaris, Tjokrodjio. Setiap Rabu malam jam 9.00 orang-orang tidak mau beranjak dari depan radio, sudah tidak sabar menunggu serial selanjutnya. RRI Surakarta tidak pernah menyiarkan ketoprak, tetapi siaran wayang orang. Pemain primadonanya Listiorini, yang memerankan Arjuna, salah satu putra Pendawa. Sebelum masuk kota Solo dari arah Semarang, terdapat restoran ayam goreng yang cukup terkenal, namanya Madukoro. (nama kerajaannya Arjuna) Nah retoran ini dikelola oleh bu Lis, panggilan akrabnya Listiorini.


Nontom bioskop jaman dulu

Gedung bioskop jaman dulu besar-besar, bisa memuat sampai seribu penonton. Bioskop Sriwedari, Solo, bahkan bisa menampung lebih seribu orang. Berbeda dengan Cineplex sekarang, dimana satu gedung terdiri dari beberapa ruangan kecil yang bisa memutar sampai lima film sekaligus. Dulu nonton bioskop pakai kelas: kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 paling depan atau disebut kelas kambing. Kelas satu sering dibangun di lantai 2, sejajar dengan proyektor, namanya loge. Sampai SMA saya kalau nonton selalu kelas kambing, yang paling murah.

Walaupun gedungnya besar-besar, tetapi kalau pas lagi film bagus sering tidak kebagian karcis. Untuk film yang diputar jam 5 kita harus mulai antri jam 3. Kita sering baru nonton setelah film diputar beberapa hari, cari yang lebih longgar antri karcisnya. Hanya saja sering keduluan sama teman-teman, jadi bikin tambah penasaran saja. Yang seangkatan dengan saya tentu masih ingat film-film western seperti : Last train from from Gun Hill (Kirk Douglas), Gun fight at OK Corral (Burt Lancaster), Shane (Alan Ladd), High noon (Gary Cooper), Giant (Rock Hudson dan James Dean), Rio Bravo (John Wayne, Dean Martin dan Ricky Nelson). Untuk film-film detektif : Vertigo (James Stewart), North by the northwest (Gary Grant), The man who knew too much (James Stewart). Untuk film-film musikal : April Love (Pat Boone), Love me tender, King Creole, Blue Hawai, GI Blues yang semuanya dibintangi Elvis Presley.

Pembatasan usia penonton juga ketat. Film dibagi menjadi 3 kategori: segala umur, 13 tahun dan 17 tahun keatas. Anak-anak yang masih dibawah umur jangan harap bisa nonton film 17 tahun keatas. Saking kepenginnya nonton film 17 tahun, begitu masuk SMA saya langsung membuat kartu pelajar dengan usia dituakan 2 tahun. Sekarang nampaknya sangat longgar, anak-anak SMP kelihatan bebas nonton film orang dewasa.


Film-film favorit

Ada beberapa film yang sangat saya sukai, sehingga sudah puluhan kali saya tonton tetap saja tidak pernah bosan. Salah satunya, The Ten Commandments (dibuat tahun 1956), atau Sepuluh Perintah Tuhan yang dibintangi Charlton Heston dan aktor gundul Yul Brynner. Film ini mengisahkan tentang kehidupan nabi Musa, sejak dari lahirnya, dipelihara raja Firaun, memperoleh kenabiannya di gunung Sinai sampai pembebasan umat Yahudi dari perbudakan Fir’aun. Film dengan basis kisah dari Injil ini ternyata banyak mengambil bahan-bahan dari Al Qur’an untuk melengkapi detil kehidupan nabi Musa. Sebagai film kolosal film ini melibatkan ribuan pemain figuran, karena pada waktu itu belum ada tehnologi animasi komputer. Adegan yang dianggap paling spektakuler adalah pada waktu Musa sampai dipinggir laut dan harus membelah laut untuk bisa terus menyeberang, menghindari kejaran tentara Fir’aun.

Film favorit yang lain adalah Ben Hur (1959) yang dibintangi Charlton Heston dan Stephen Boyd. Film yang juga berbasis kisah Injil ini, bercerita tentang seorang pangeran Yahudi, Yudah Ben-Hur dari Yudea, (dimainkan oleh Charlton Heston) yang dihianati oleh teman mainnya sejak kecil, Messala (dimainkan oleh Stephen Boyd), yang belakangan menjadi penguasa Romawi dan diangkat sebagi Gubernur Yudea.. Karena kesalahan kecil, Ben Hur dihukum, dijadikan budak dan dibuang oleh Messala. Ben Hur akhirnya bisa membebaskan diri dan kembali ke negrinya untuk membalas dendam. Adegan yang menarik adalah balap kereta kuda (chariot) yang diikuti oleh Ben Hur dan Messala.

Namun diantara film-film yang saya gemari, yang saya tidak pernah bosan adalah Godfather part 2(1974), yang dibintangi Al Pacino dan Robert de Niro. Film ini,yang dibuast atas dasar novel Mario Puso, mengisahkan tentang kehidupan mafia Italia di Amerika. Khusus di bagian ke 2 ini ada flashback dari Vito Corleone kecil, remaja , sampai menjadi Don atau Godfather. Setting, property, kostum sampai make-up dibuat dengan sangat detil. Kita seolah-olah benar-benar dibawa ke alam Sisilia atau suasana kota New York awal abad ke 20.


Film dan visualisasi sejarah

Saya selalu kagum dengan mereka yang terlibat dalam pembuatan film. Bukan hanya artisnya, utamanya pada mereka yang terlibat dalam desain produksi, penulis naskah, property, perancang kostum, pembuat efek khusus dls. Mereka dapat menghadirkan suasana ribuan tahun yang lalu dihadapan kita. Mereka membantu kita mem-visualisaikan peristiwa-peristiwa sejarah dengan sangat nyata. Tokoh-tokoh perfilman, seperti George Lucas atau Steven Spielberg, seharusnya mendapat hadiah Nobel untuk karya-karya filmnya. Dari kisah di kitab suci kita hanya membaca bahwa Nabi Musa mendapat wahyu pertama di gunung Sinai. Dari film kita bisa membayangkan bagaimana kira-kira peristiwa turunnya wahyu tersebut terjadi. Di agama Islam orang yang mengumandangkan adzan disebut muadzin atau bilal. Dari film The Message, kisah tenatng Nabi Muhammad, kita bisa melihat ternyata bilal (nama aslinya Bilal ibn Rabah atau Bilal al-Habeshi) adalah nama budak kulit hitam asal Etiopia sebagai orang yang pertama diangkat sebagai muadzin resmi oleh Nabi Muhammad saw. Setiap kali waktu sholat tiba dia harus berlari-lari mencari tempat yang tinggi untuk melantunkan adzannya. Dari film How the west was won kita bisa membayangkan betapa beratnya dan kejamnya perjuangan para penetap (settlers) yang akan mencari daerah baru di Amerka barat. Kita juga dapat lebih memahami mengapa Napolean, yang tentaranya dan perlengkapannya lebih kuat, sampai kalah dari Rusia setelah melihat film War and Peace(Leo Tolstoy, 1956).

Sayang tidak banyak dibuat film Indonesia yang berlatar belakang sejarah, sehingga kita tidak bisa mengagumi kebesaran nenek moyang kita dimasa lalu. Kebesaran kerajaan Majapahit yang mampu mengarungi samudra samapai ke Madagaskar pasti sangat menarik untuk difilmkan. Bagaimana dinasti Syailendra membangun candi Borobudur di abad ke 8 juga susah dibayangkan. Raja Melayu Samudra Pasai yang armada lautnya menguasai selat Malaka hanya dapat kita baca di buku-buku sejarah saja.


Dimana melihat film-film lama?

Waktu saya sekolah di Amerika, disana terdapat stasiun TV yang khusus memutar film-film lama. Saya sempat menonton film-film cowboy dengan bintang-bintang seperti Roy Rogers, Ronald Reagan, John Wayne ketika masih muda. Di Indonesia sekarang semakin jarang melihat TV yang memutar film-film lama. Kalau adapun kondisi film sudah mulai rusak, sehingga kurang bisa dinikmati. Banyak film-film tahun 50-60an yang bagus-bagus. Generasi saya tentu masih ingat film-film seperti : 8 Penjuru angin dan Pejuang (Bambang Hermanto), Krisis, Lewat jam malam, 3 dara (Indriati Iskak, MiekeWijaya, Chitra Dewi), Pulang (Turino Junaedi), Hari libur (Bing Slamet). Saya kawatir anak-anak dan cucu-cucu kita tidak pernah tahu bahwa bangsa ini pernah memproduksi film-film besar dan bagus. Sayang.

Minggu, 14 September 2008

Mengurangi resiko kecelakaan di lintasan KA

Kecelakaan di lintasan kereta api (KA) sudah sering sekali terjadi. Sampai saat ini barangkali sudah ratusan jiwa melayang akibat tabrakan di lintasan KA. Umumnya yang terjadi adalah kendaraan yang melewati lintasan tanpa palang pintu, dirabrak kereta yang sedang lewat. Dapat juga terjadi petugas lintasan lalai tidak menutup palang pintu ketika KA akan lewat. Namun tidak sedikit pengendara masih nekad menrobos ketika lampu peringatan sudah menyala atau bahkan ketika palang pintu sudah ditutup. Untuk kasus pertama dan kedua, umumnya fihak PT Kereta Api Indonesia yang disalahkan, karena menyediakan palang pintu dan menutup pada waktunya adalah kewajiban PT KAI. Beberapa petugas lintasan pernah diadili karena dianggap lalai menjalankan tugasnya hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang. Namun, secara lembaga PT KAI belum pernah dituntut secara class action untuk membayar kompensasi kepada korban. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencari siapa yang salah, namun untuk mendidik masyrakat bagaimana seharusnya menyikapi lintasan KA agar terhindar dari kecelakaan.

Kondisi lintasan KA di Indonesia
Angkutan KA masih merupakan moda transportasi umum antar kota untuk sebagian besar masyarakat kita. Untuk kereta ekonomi masih relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat bawah. Jangan tanya kondisi kereta, kenyaman dan keamanannya. (Orang Madura bilang : "Murah kok minta aman.") Untuk kereta bisnis dan eksekutif cukup nyaman, santai dan tidak terlalu membuat orang buru-buru. Sebagian besar kota-kota di Indonesia, khususnya di Jawa, dihubungkan dengan jalur KA. Bahkan di jaman Belanda dulu, ketika kendaraan roda empat belum banyak tersedia, hampir seluruh kota dihubungkan oleh jaringan KA. Sesudah mobil-mobil masuk ke Indonesia, jalur-jalur KA banyak yang ditutup. Bandingkan dengan Jepang, negara yang sangat maju sistem transportasinya, dimana jaringan KA justru dipetahankan sampai ke pelosok-pelosok desa.
Tidak bisa dihindarkan jalur-jalur KA tersebut akan sering bertemu dengan lintasan jalan untuk kendaraan umum. Konsekuensinya, diperlukan palang pintu lintasan dan petugas penjaganya. Bisa dibayangkan berapa ribu lintasan yang harus dibangun dan berapa ribu petugas lintasan KA yang harus direkrut. Beberapa palang pintu secara otomatis menutup sendiri karena sudah dilengkapi sensor elektronik untuk memperingatkan adanya KA yang akan lewat, sehingga tidak memerlukan petugas penjaga lagi. Namun jumlahnya masih sedikit sekali. Didalam kenyataannya cukup banyak lintasan KA yang tidak dilengkapi palang pintu. Kita ambil contoh untuk jallur antara Brebes sampai Batang, dari 167 perlintasan KA yang ada terdapat 34 lintasan yang tidak dilengkapi dengan palang pintu.
PT KAI angkat tangan soal keberadaan 2.500 lintasan kereta api liar dan 2.000 lintasan resmi tak berjaga di wilayah Jawa. Dipastikan selama Ramadan dan Lebaran, lintasan liar dan resmi tak berjaga itu tidak akan mendapat jatah tenaga jaga. Alasannya, KAI hanya fokus mengawasi 2.300 lintasan resmi dari total lintasan KA sebanyak 6.800.
Kita baru membicarakan palang pintu lintasan, belum lagi petugas penjaga lintasan. Idealnya, untuk satu lintasan KA, dibutuhkan empat penjaga. Dengan begitu, butuh delapan ribu penjaga baru untuk menjaga dua ribu lintasan resmi yang belum terjaga. Kondisi tersebut sangat sulit. Sebab, delapan ribu tenaga tidaklah sedikit. Sementara kemampuan PT KAI baru menyentuh 2.300-an. Ini saja membutuhkan tenaga tak sedikit. Banyak dari penjaga lintasan ini yang belum diangkat sebagai pegawai tetap, harus bekerja sampai 12 jam per hari dengan honor sekitar Rp900 ribuan.
Jadi kesimpulan pertama, sebagai pengguna jalan keamanan kita setiap kali melintas pintu KA tidak dapat menegandalkan kepada adanya palang pintu maupun petugas penjaganya. Sebagai pengendara harus meningkatkan kewaspadaan, kehati-hatian dan merubah pola pikir (midset) dalam menyikapi palang pintu KA.

Bagaimana di Amerika?
Di Amerika, untuk didalam kota jalur KA hampir tidak pernah muncul dipermukaan, karena harus masuk dibawah tanah. Begitu keluar kota, sama dengan di Indonesia, jalur KA harus bertemu dan sering bersilangan dengan jalur kendaraan umum. Perbedaannya, tidak ada satupun lintasan KA yang dilengkapi dengan palang pintu maupun dijaga oleh petugas. Bayangkan harus merekrut berapa puluh ribu orang untuk menjaga lintasan KA diseluruh Amerika. Belum lagi berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menggaji penjaga lintasan ini. Untuk gambaran, upah minimum per jam antara $5 sampai $8.
Perbedaaannya lagi dengan Indonesia, disana hampir tidak pernah terjadi kecelakaan di lintasan pintu KA. Di Amerika. lintasan KA dengan segala peringatannya adalah bagian dari rambu-rambu lalulintas. Sebagai rambu bermakna suatu perintah atau larangan bagi pengguna jalan. Dalam teori berkendara di Amerika, rambu lintasan KA artinya pengendara harus berhenti sesaat ( 1 sampai 2 detik) ketika sampai di lintasan KA, melihat kekiri dan kanan, sebelum melanjutkan perjalanan. Perintah untuk "berhenti sesaat" ini tetap berlaku tanpa melihat apakah jalur sedang menunggu KA yang akan lewat, atau sedang kosong sama sekali. Jadi kalau lintasan sedang kosong tetapi kita terus melaju saja tanpa berhenti, maka dianggap melakukan pelanggaran lalulintas.

Perubahan pola pikir: pintu lintasan adalah rambu lalulintas
Pola pikir bahwa pintu lintasan akan aman karena dilengkapi dengan palang pintu dan ditunggu penjaga harus mulai dirubah. Kita harus realistis cukup banyak lintasan KA yang tidak dilengkapi dengan palang pintu. Yang dilengkapipun banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Perubahan pola pikir harus datang dari pengendara dulu. Setiap kali kita bertemu dengan lintasan KA, baik yang ada palang pintunya maupun tidak, kita harus sudah berniat untuk "berhenti sejenak", tengok kiri tengok kanan, sudah aman baru maju lagi. Resikonya kita dikklaksonan oleh pengendara-pengendara dari belakang. Tapi tetap lebih baik daripada ditabrak KA. Di sebagian lintasan KA sudah banyak kita jumpai rambu-rambu yang mengingatkan pengendara untuk mengikuti aturan "berhenti sejenak". Namun ini perlu ditegakkan (enforce) dengan memasukkan kedalam peraturan lalulintas beserta sangsi bagi yang melanggarnya. Yang berwenang juga bisa membantu membuat polisi-polisi tidur kecil (jalur-jalu kecil seperti di jalan tol setiap melewati daerah rawan kecelakaan) yang tidak terlalu tinggi, untuk mengingatkan penngendara setiap mendekati lintasan KA. Tentu akan ada yang berkomentar sinis, yah orang Indonesia mana mau diatur disuruh disiplin. Biarlah mereka yang tidak disiplin. Kalau mereka tetap tidak mengikuti aturan dan ketabrak KA, saya akan katakan "You asked for it". Bagi anda-anda yang sebentar lagi akan mudik memggunakan jalan raya, agar selamat sampai ke tujuan harap ikuti aturan "berhenti sejenak" setiap kali ketemu lintasan KA, tanpa melihat apakah dilengkapi dengan palang pintu atau tidak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Selasa, 09 September 2008

Puasa yang khusuk

quran bismillah


Perintah untuk menjalankan puasa terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :
"Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la allakum tataquun"

“ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa."

Dalam bulan Ramadhan ini sebagian besar rakyat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Ada bermacam-macam motivasi orang beribadah. Umumnya kita berpuasa karena kita menyadari bahwa itu sebagai suatu kewajiban, seperti kewajiban sholat, zakat, atau haji. Tetapi ada juga orang yang melaksanakannya karena terpaksa. Kita ambil contoh sholat. Ada orang yang sholat karena terpaksa. Mengaku sebagai orang Musllim malu kalau tidak sholat. Jadi dia hanya sholat pada hari Jum'at saja atau kalau pas Lebaran, sholat Ied. Pada hari-hari lain dia tidak sholat, toh tidak ada yang tahu. Atau, ada yang sholat kalau lagi dirumah mertua karena takut sama mertua. Atau, anak-anak yang dipaksa sholat. Ada juga yang naik Haji karena malu, teman-teman sekantor, saudara-saudara sudah naik Haji semua. Ibadah yang dilakukan karena terpaksa pasti dirasakan berat sedkali, merupakan beban dan dijamin tidak khusuk.
Ada sebagian orang lain yang beribadah karena memang menyadari itu sebagai kewajiban, sebagaimana yang disyaratkan dalam rukun Islam. Karena sudah menyadari sebagai kewajiban maka rasanya enteng-enteng saja dalam melaksanakannya. Kalau lupa atau tidak sempat sholat ada rasa berdosa.
Namun sebetulnya yang lebih baik seharusnya kita menjalankan ibadah karena sudah merupakan suatu kebutuhan rohani. Bagi kelompok ini, melaksanakan sholat dirasakan sebagai sesuatu kegiatan yang dapat memberikan kenikmatan, kedamaian dan ketentraman jiwa. Ada sesuatu yang terasa kurang kalau waktu sholat tiba tapi kita tertunda-tunda melakukannya. Seperti orang yang biasa minum kopi tiap pagi, tapi sampai siang belum minum juga. Untuk orang-orang semacam ini, kalau sampai ketiduran padahal belum sempat sholat I'sa maka pada tengah malam serasa ada yang membangunkan untuk sholat I'sa. Ada yang pulang naik Haji kapok, tidak mau kesana lagi. Ini karena hajinya dijalankan dengan rasa terpaksa, jadi terasa berat. Sebaliknya ada yang setiap musim Haji selalu ingin lagi berangkat ke tanah suci, walaupun sudah naik haji berkali-kali

Puasa karena terpaksa
Begitu pula dalam ibadah puasa. Banyak yang berpuasa karena terpaksa. Sama seperti sholat, mengaku KTP-nya Islam kok nggak puasa, malu dong. Apalagi orang-orang dirumah, dikomplek, dan dikantor puasa semua. Bagaimana ciri-cirinya orang yang berpuasa karena terpaksa? Memang kita tidak boleh su'udon, hanya Allah Swt. yang mengetahui niat seseorang didalam menjalankan ibadah. Namun dari cara seseorang menyikapi datangnya bulan Ramadhan dapat sedikit terdekteksi. Orang-orang type ini sangat sedih kalau Ramadhan tiba, dan senang sekali kalau Lebaran sudah semakin dekat. Sehari menjelang puasa bisasanya akan pesta, makan-makan sepuasnya, seolah-olah esok hari the end of the world dimana tidak akan ada makanan sama sekali. Jam-jam menunggu datangnya bedug Maghrib diisi dengan membayangkan apa yang akan dimakan nanti. Bahkan sejak jam 2 siang sudah mulai mengumpulkan makanan yang akan digunakan untuk berbuka. Begitu terdengar adzan Maghrib langsung menyerbu meja makan, semuanya dilahap habis, balas dendam karena merasa telah kelaparan seharian.
Di Indonesia nampaknya yang banyak kelompok ini. Ini terbukti dalam bulan Ramadhan pengeluaran untuk bahan makanan meningkat drastis. Harga-harga kebutuhan pokok dan makanan melambung tinggi, angka inflasi naik. Secara teori seharusnya konsumsi makanan berkurang karena kita seharian mengurangi makan. Yang terjadi justru sebailknya, konsumsi makanan meningkat baik dari segi kuantitas maupun jenisnya. Makanan-makanan yang dibulan-bulan lain sulit dijumpai, dibulan puasa ini ada semua.
Ungkapan "Marhaban ya Ramadhan" hanya berlaku untuk orang-orang yang merindukan datangnya bulan Ramadhan. Orang-orang beriman yang menunggu-nunggu datangnya bulan suci ini, dan menangis ketika akan ditinggalkan Ramadhan.

Agar lebih khusuk puasanya

Beberapa tahun terakhir ini saya hampir tidak pernah memenuhi undangan berbuka puasa. Saya takut tidak bisa khusuk lagi dalam menjalankan ibadah puasa. Undangan berbuka puasa, khususnya kalau kantor yang menyelenggarakan, selalu dipenuhi berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Ketika menunggu buka saya tidak bisa mencegah pikiran saya untuk tidak memikirkan makanan yang lezat-lezat tersebut. Bahkan sejak berangkat dari rumahpun yang kebayang hanya makanan saja.
Dirumah saya juga tidak pernah minta dimasakkan menu khusus untuk buka. Tidak ada perubahan menu, atau tambahan snack selama bulan Ramadhan. Apapun yang dimasakkan istri saya, saya makan dengan senang dan ikhlas. Apakah rasanya terlalu asin, kemanisan, atau terlalu asem, tidak pernah saya menegornya. Khiusus dibulan suci ini saya tidak ingin ibadah saya terganggu hanya karena soal makanan. Walaupun perut tersa lapar, tenggorokan terasa haus, saya berusaha untuk tidak memikirkan makanan sama sekali. Saya merasa dengan cara ini saya dapat lebih khusuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Selasa, 26 Agustus 2008

Perkawinan yang kekal

Perkawinan merupakan ikatan antara dua individu, laki dan perempuan, untuk hidup bersama dibawah satu atap dalam waktu yang lama. Perikatan ini diharapkan dapat berlangsung langgeng dan kekal, bahkan sampai akhir hayat. Di perkawinan Jawa, harapannya selalu agar tiap pasangan sampai kaken-kaken lan ninen-ninen (kakek-kekek dan nenek-nenek) kaya mimi lan mintuna. Mimi dan mintuna adalah binatang laut yang kemana-mana selalu kelihatan berdua dengan pasangannya. Dari segi psikologi, harapan untuk bisa hidup bersama secara harmonis dalam waktu yang panjang nampaknya sulit dilakukan, karena kedua individu ini datang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan yang ada antara masing-masing individu bisa sangat ekstrem dan luas. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, sosial, suku, agama, antar bangsa dls. Keluarga pendidik bertemu dengan keluarga pedagang, anak ulama kawin dengan anak polisi, atau anak pejabat ketemu dengan artis sinetron, anggota DPR kawin dengan penyanyi.
Walaupun mereka mungkin masih berasal dari satu bangsa, tapi masing-masing membawa nilai-nilai, tatanan, adat-istiadat dan kebiasaan keluarga yang berbeda. Orang Sunda ketemu orang Jawa, orang Solo yang serba halus dipersunting orang Batak, orang Bali kawin dengan orang Padang. Belum lagi perkawinan dari pasangan yang berbeda agama, atau beda bangsa.
Jadi dari kacamata psikologi, yang lebih wajar sebetulnya ikatan perkawinan ini akan putus ditengah jalan, karena adanya berbagai perbedaan diatas. Satistisk perceraian di Amerika menunjukkan bahwa pasangan yang usia perkawinannya bisa mencapai tahun ke 5, 10, dan 15 masing-masing adalah: 82%, 65% dan 52%. Artinya, satu dari setiap lima perkawinan berakhir dengan perceraian sebelum melewati tahun ke lima. Kemudian satu dari setiap tiga perkawinan bisa mencapai tahun ke 10, dan hanya satu dari dua perkawinan yang dapat sampai berusia 15 tahun. Di Indonesia belum ada angka-angkanya, namun nampaknya tren-nya semakin meningkat, khususnya dikalangan artis atau pasangan yang bekerja (working couples).
Menurut Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Nazarudin Umar, Indonesia berada diperingkat tertinggi yang memiliki angka perceraian paling banyak dalam setiap tahunnya, dibandingkan negara Islam didunia lainnya. Tulisan singkat ini berusaha membahas: Apa yang dapat membuat suatu perkawina berlangsung lama, langgeng dan tetap harmonis?

Pertunangan: perlu atau tidak?
Ada silang pendapat mengenai perlu atau tidaknya pertunangan. “Tunangan itu perlu. Buat penjajakan sebelum nikah. Kalo nggak cocok ya putus saja. Lebih mudah putus tunangan daripada cerai setelah menikah,” kata seorang wanita. “Nggak usah pakai tunangan. Biar kata udah nikah, ada anak segala, kalo emang udah nggak bisa diselamatkan ya divorce,” kata wanita lainnya lagi. “Mau pakai engagement atau langsung married, masalahnya ada nggak niat untuk me-manage hubungan? Masa sih nikah buat bercerai? Lantas buat apa kita pacaran serius?” wanita lainnya menimpali.
Sebelum memasuki gerbang perkawinan, umumnya prosesnya adalah perkenalan, saling tertarik, pacaran dan dilanjutkan ke pertunangan. Masa pertunangan sebetulnya dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua belah fihak untuk saling mengenal pribadi masing-masing dan menyesuaikan atau memperkecil (fine-tuning) perbedaan-perbedaan yang ada diantara mereka. Bahkan di negara-negara Barat yang nilai-nilai moralnya sangat longgar, pada masa pertunangan kedua pasangan sudah hidup bersama satu rumah, sebagaimana layaknya suami istri. Kalau demikian tujuan petunangan, maka logikanya semakin lama masa pertunangan tentunya akan semakin berhasil suatu perkawinan. Gejolak dan kejutan-kejutan yang muncul sebagai akibat perbedaan nilai, kebiasaan, kepribadian, diharapkan sudah tidak ada lagi. Nampaknya tidak selalu demikian.
Dalam masa pertunangan, walaupun kedua belah fihak telah berusaha untuk saling terbuka, namun tetap ada sisi-sisi pribadinya yang tidak seluruhnya terungkap kepada pasangannya. Menurut teori Joharry window, tidak semua jendela pribadi kita dapat dilihat oleh pasangan kita. Masing-masing berusaha menyenangkan pasangannya dengan menutupi kekurangannya. Kalau ceweknya penggemar berat lagu dangdut, padahal cowoknya tidak suka, maka si cowok masih berpura-pura menyenangi lagu dangdut. Kalau cowoknya suka makan pete, padahal ceweknya paling nggak tahan bau pete, maka si cewek masih berpura-pura bilang "ah nggak apa-apa". Dalam masa pertunangan semua yang dilakukan pasangannya tampak indah. Lagu yang selalu dinyanyikan adalah "disini senang disana senang".
Jadi walaupun pertunangan memang diperlukan untuk saling menyesuaikan diri, namun lamanya masa pertungan tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Setelah memasuki dunia perkawinan perbedaan-perbedaan yang selama ini tidak kelihatan, muncul semua. Kepribadian aslinya keluar semua. Lagunya akan berubah menjadi : "Buah semangka berdaun sirih, aku begini engkau begitu."

Apa peran cinta?
Untuk generasi kita, umumnya perkawinan dilandasi oleh cinta. Ada juga beberapa kasus dimana perkawnan tidak didasari cinta, misalnya karena dijodohkan, atau terpaksa karena sudah terlanjur tua daripada tidak kawin. Pertanyaannya: Perlukah cinta dalam menjalin hubungan suami istri dan membina rumah tangga ? Jawaban yang diterima biasanya adalah “perlu, bahkan mutlak!”. Tetapi sebagian antropolog berpendapat “penelitian terhadap sekian banyak masyarakat primitive membuktikan masyarakat tersebut tidak mengenal apa yang kita namakan cinta”. Tidak usah jauh-jauh, orang-orang tua kita dari generasi sebelum tahun 50-an banyak yang perkawinannya dijodohkan, jadi tanpa melalui proses cinta. Perkawinan ini langgeng, jarang sekali ada perceraian terjadi di perkawinan-perkawinan lama. Barangkali falsafahnya : lebih baik mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang kita cintai."
Dikelompok etnis tertentu, seperti warga keturunan Arab, perkawinan diusahakan terjadi didalam kelompoknya. Laki-laki Arab masih bisa kawin dengan perempuan non-Arab, tetapi untuk perempuannya harus kawin dengan sesama Arab. Jadi, disini tidak ada kebebasan untuk memilih jodohnya atas dasar cinta.
Apakah perkawinan yang dilandasai cinta lebih awet dibanding dengan perkawinan tanpa cinta? Belum ada penelitiannya. Mungkin ya, tetapi sekali lagi, cinta saja tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Dari pasangan-pasangan yang berakhir dengan perceraian, sering terdengar ungkapan: "sebetulnya saya masih cinta, tapi nampaknya perbedaan diantara kita sudah tidak dapat dikompromikan lagi". Jadi, cinta yang begitu kuat dan mendalam tidak bisa menghilangkan adanya perbedaan.

Daya tarik fisik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa cinta diawali dengan ketertarikan fisik. Semua orang senang melihat dan memiliki sesautu yang indah dan cantik. Setiap orang ingin mempunyai istri/suami yang cantik/cakap, walaupun kecantikan itu relatif untuk masing-masing orang. Pepatah mengatakan "beauty is in the eyes of the beholder", atau kecantikan itu tergantung dari siapa yang melihatnya. Salah satu kebutuhan dasar wanita adalah ingin tampil cantik. Wanita, dalam situasi apapun, ingin selalu tampak cantik dan menarik. Segala macam cara tersedia untuk membuat wanita tampil cantik. Mulai dari bedah plastik, vermaak hidung, sedot lemak, pasang susuk semuanya ada, asal kuat bayarnya. Di Amerika pernah ada suatu penelitian, pada masa resesi ekonomi salah satu industri yang tidak terpengaruh adalah industri kosmestik. Artinya, walaupun dalam keadaan ekonomi sulit wanita berusaha untuk tetap tampil menarik.
Wanita juga ingin kelihatan cantik dimata suaminya. Tentu harapannya agar suami tetap sayang, betah dirumah dan tidak melirik wanita lain. Memang ada benarnya. Suami mana yang betah dirumah kalau setiap hari lihat istrinya awut-awutan, nggak menjaga badannya, nggak pernah dandan. Tetapi kecantikan saja tidak menjamin sang suami tetap setia dengan satu istri. Banyak suami-suami yang istrinya cantik-cantik tetap saja selingkuh. Ada ibu-ibu yang tiap tahun operasi plastik suapaya tetap cantik, masih saja ditinggal suaminya pacaran. Tamara Brezenky, Sofia Lajuba, Dewi Sandara, Halimah, kurang apa cantiknya. Toh perkawinannya juga kandas ditengah jalan. Mungkin diperlukan lebih dari sekedar kecantikan fisik untuk mempertahankan langgengnya perkawinan. Istilahnya sekarang "inner beauty" atau kecantikan yang memancar dari dalam.

Bagaimana dengan anak-anak?
Kehadiran anak sangat diantikan oleh semua pasangan. Saya kira ini sangat universal dan manusiawi, walaupun di negara-negara Barat ada juga aliran yang mau kawin tapi tidak mau punya anak. Suami istri mulai gelisah dan cemas, (termasuk kedua orang tua) setelah perkawinan berlangsung empat atau lima tahun tetapi belum juga dikarunia anak. Banyak pasangan yang harus bercerai dengan alasan tidak punya anak. Suami kawin lagi karena ingin punya keturunan. Biasanya yang selalu disalahkan fihak wanita, yang dianggap tidak bisa memberi keturunan. Sebetulnya kalau yang diinginkan adanya kehadiran anak-anak, masih ada jalan keluarnya. Misalnya dengan mengambil anak angkat.
Lantas, kalau sudah punya anak banyak tentunya tidak akan bercerai, kalau anak merupakan salah satu tujuan perkawinan. Banyak perceraian tetap saja terjadi walaupun sudah dikaruniai anak banyak. Memang faktor adanya anak menjadi salah satu pertimbangan yang paling berat sebelum memutuskan untuk bercerai. Tetapi adanya anak-anak tidak menjamin bahwa perceraian tidak akan terjadi. Adanya anak tidak menghilangkan perbedaan yang ada diantara suami istri.

Sumber konflik
Adanya perbedaan-perbedaan diatas apabila tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber konflik dan dapat memicu perselisihan antar suami istri. Ketidaksepahaman dapat terjadi untuk masalah-masalah :
  1. Masalah keuangan, termasuk cara memperoleh dan membelanjakan penghasilan keluarga.
  2. Lingkungan pergaulan dan pertemanan suami atau istri. Suami yang dididik dengan aturan moral dan agama yang ketat, tidak bisa menerima pergaulan istri yang terlalu bebas diluar.
  3. Pendidikan anak-anak, misalnya dalam pemilihan sekolah ataupun cara medisiplinkan anak-anak.
  4. Persoalan hubungan dengan keluarga besar istri atau suami, seperti mertua yang terlalu ikut campur, saudara-saudara atau ipar yang terlalu sering minta bantuan dls.
  5. Persoalan pemilihan kegiatan rekreatif, minat terhadap kegiatan diluar rumah antar suami dan istri.
  6. Persoalan pembagian tigas domestik dan non-domestik antar pasangan.
  7. Aktivitas tertentu atau hobi dari salah satu pasangan yang tidak disukai oleh suami/istri. (minuman keras, judi, narkoba)
Sumber-sumber konflik diatas kalau tidak dapat dikelola dengan baik akan menjadi awal dari pecahnya suatu perkawinan.

Mengelola perbedaan
Jadi, dapat disimpulkan masa pertunangan, rasa cinta yang mendalam, daya tarik fidik, dan kehadiran anak-anak tidak akan menghilangkan adanya perbedaan antar pasangan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dikelola dengan seksama. Perbedaan itu indah karena membentuk berbagai corak dan warna dalam suatu sinergi yang serasi. Cara mengelola perbedaan ialah dengan mencoba menghargai dan memahami cara berfikit fihak lain. Kita harus sadar bahwa istri atau suami adalah orang lain, dan akan tetap menjadi orang lain sampai kapanpun. Dalam berkomunikasi kita harus selalu mencoba menempatkan diri kita sebagai istri/suami kita untuk memahami mengapa dia berpendapat demikian atau mengambil tindakan tersebut. (put on someone else's shoes) Komunikasi harus dilandasi kesetaraan, kejujuran, saling percaya dan menganggap istri/suami kita sebagai bagian dari team work. Dengan berjalannya perkawinan, diantara kedua belah fihak akan timbul rasa saling toleransi dan menghargai. Kunci dari kekalnya perkawinan adalah saling toleransi, saling menghargai dan memahami satu sama lain.