Selasa, 09 September 2008

Puasa yang khusuk

quran bismillah


Perintah untuk menjalankan puasa terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :
"Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la allakum tataquun"

“ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa."

Dalam bulan Ramadhan ini sebagian besar rakyat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Ada bermacam-macam motivasi orang beribadah. Umumnya kita berpuasa karena kita menyadari bahwa itu sebagai suatu kewajiban, seperti kewajiban sholat, zakat, atau haji. Tetapi ada juga orang yang melaksanakannya karena terpaksa. Kita ambil contoh sholat. Ada orang yang sholat karena terpaksa. Mengaku sebagai orang Musllim malu kalau tidak sholat. Jadi dia hanya sholat pada hari Jum'at saja atau kalau pas Lebaran, sholat Ied. Pada hari-hari lain dia tidak sholat, toh tidak ada yang tahu. Atau, ada yang sholat kalau lagi dirumah mertua karena takut sama mertua. Atau, anak-anak yang dipaksa sholat. Ada juga yang naik Haji karena malu, teman-teman sekantor, saudara-saudara sudah naik Haji semua. Ibadah yang dilakukan karena terpaksa pasti dirasakan berat sedkali, merupakan beban dan dijamin tidak khusuk.
Ada sebagian orang lain yang beribadah karena memang menyadari itu sebagai kewajiban, sebagaimana yang disyaratkan dalam rukun Islam. Karena sudah menyadari sebagai kewajiban maka rasanya enteng-enteng saja dalam melaksanakannya. Kalau lupa atau tidak sempat sholat ada rasa berdosa.
Namun sebetulnya yang lebih baik seharusnya kita menjalankan ibadah karena sudah merupakan suatu kebutuhan rohani. Bagi kelompok ini, melaksanakan sholat dirasakan sebagai sesuatu kegiatan yang dapat memberikan kenikmatan, kedamaian dan ketentraman jiwa. Ada sesuatu yang terasa kurang kalau waktu sholat tiba tapi kita tertunda-tunda melakukannya. Seperti orang yang biasa minum kopi tiap pagi, tapi sampai siang belum minum juga. Untuk orang-orang semacam ini, kalau sampai ketiduran padahal belum sempat sholat I'sa maka pada tengah malam serasa ada yang membangunkan untuk sholat I'sa. Ada yang pulang naik Haji kapok, tidak mau kesana lagi. Ini karena hajinya dijalankan dengan rasa terpaksa, jadi terasa berat. Sebaliknya ada yang setiap musim Haji selalu ingin lagi berangkat ke tanah suci, walaupun sudah naik haji berkali-kali

Puasa karena terpaksa
Begitu pula dalam ibadah puasa. Banyak yang berpuasa karena terpaksa. Sama seperti sholat, mengaku KTP-nya Islam kok nggak puasa, malu dong. Apalagi orang-orang dirumah, dikomplek, dan dikantor puasa semua. Bagaimana ciri-cirinya orang yang berpuasa karena terpaksa? Memang kita tidak boleh su'udon, hanya Allah Swt. yang mengetahui niat seseorang didalam menjalankan ibadah. Namun dari cara seseorang menyikapi datangnya bulan Ramadhan dapat sedikit terdekteksi. Orang-orang type ini sangat sedih kalau Ramadhan tiba, dan senang sekali kalau Lebaran sudah semakin dekat. Sehari menjelang puasa bisasanya akan pesta, makan-makan sepuasnya, seolah-olah esok hari the end of the world dimana tidak akan ada makanan sama sekali. Jam-jam menunggu datangnya bedug Maghrib diisi dengan membayangkan apa yang akan dimakan nanti. Bahkan sejak jam 2 siang sudah mulai mengumpulkan makanan yang akan digunakan untuk berbuka. Begitu terdengar adzan Maghrib langsung menyerbu meja makan, semuanya dilahap habis, balas dendam karena merasa telah kelaparan seharian.
Di Indonesia nampaknya yang banyak kelompok ini. Ini terbukti dalam bulan Ramadhan pengeluaran untuk bahan makanan meningkat drastis. Harga-harga kebutuhan pokok dan makanan melambung tinggi, angka inflasi naik. Secara teori seharusnya konsumsi makanan berkurang karena kita seharian mengurangi makan. Yang terjadi justru sebailknya, konsumsi makanan meningkat baik dari segi kuantitas maupun jenisnya. Makanan-makanan yang dibulan-bulan lain sulit dijumpai, dibulan puasa ini ada semua.
Ungkapan "Marhaban ya Ramadhan" hanya berlaku untuk orang-orang yang merindukan datangnya bulan Ramadhan. Orang-orang beriman yang menunggu-nunggu datangnya bulan suci ini, dan menangis ketika akan ditinggalkan Ramadhan.

Agar lebih khusuk puasanya

Beberapa tahun terakhir ini saya hampir tidak pernah memenuhi undangan berbuka puasa. Saya takut tidak bisa khusuk lagi dalam menjalankan ibadah puasa. Undangan berbuka puasa, khususnya kalau kantor yang menyelenggarakan, selalu dipenuhi berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Ketika menunggu buka saya tidak bisa mencegah pikiran saya untuk tidak memikirkan makanan yang lezat-lezat tersebut. Bahkan sejak berangkat dari rumahpun yang kebayang hanya makanan saja.
Dirumah saya juga tidak pernah minta dimasakkan menu khusus untuk buka. Tidak ada perubahan menu, atau tambahan snack selama bulan Ramadhan. Apapun yang dimasakkan istri saya, saya makan dengan senang dan ikhlas. Apakah rasanya terlalu asin, kemanisan, atau terlalu asem, tidak pernah saya menegornya. Khiusus dibulan suci ini saya tidak ingin ibadah saya terganggu hanya karena soal makanan. Walaupun perut tersa lapar, tenggorokan terasa haus, saya berusaha untuk tidak memikirkan makanan sama sekali. Saya merasa dengan cara ini saya dapat lebih khusuk dalam menjalankan ibadah puasa.

Selasa, 26 Agustus 2008

Perkawinan yang kekal

Perkawinan merupakan ikatan antara dua individu, laki dan perempuan, untuk hidup bersama dibawah satu atap dalam waktu yang lama. Perikatan ini diharapkan dapat berlangsung langgeng dan kekal, bahkan sampai akhir hayat. Di perkawinan Jawa, harapannya selalu agar tiap pasangan sampai kaken-kaken lan ninen-ninen (kakek-kekek dan nenek-nenek) kaya mimi lan mintuna. Mimi dan mintuna adalah binatang laut yang kemana-mana selalu kelihatan berdua dengan pasangannya. Dari segi psikologi, harapan untuk bisa hidup bersama secara harmonis dalam waktu yang panjang nampaknya sulit dilakukan, karena kedua individu ini datang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaan yang ada antara masing-masing individu bisa sangat ekstrem dan luas. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, sosial, suku, agama, antar bangsa dls. Keluarga pendidik bertemu dengan keluarga pedagang, anak ulama kawin dengan anak polisi, atau anak pejabat ketemu dengan artis sinetron, anggota DPR kawin dengan penyanyi.
Walaupun mereka mungkin masih berasal dari satu bangsa, tapi masing-masing membawa nilai-nilai, tatanan, adat-istiadat dan kebiasaan keluarga yang berbeda. Orang Sunda ketemu orang Jawa, orang Solo yang serba halus dipersunting orang Batak, orang Bali kawin dengan orang Padang. Belum lagi perkawinan dari pasangan yang berbeda agama, atau beda bangsa.
Jadi dari kacamata psikologi, yang lebih wajar sebetulnya ikatan perkawinan ini akan putus ditengah jalan, karena adanya berbagai perbedaan diatas. Satistisk perceraian di Amerika menunjukkan bahwa pasangan yang usia perkawinannya bisa mencapai tahun ke 5, 10, dan 15 masing-masing adalah: 82%, 65% dan 52%. Artinya, satu dari setiap lima perkawinan berakhir dengan perceraian sebelum melewati tahun ke lima. Kemudian satu dari setiap tiga perkawinan bisa mencapai tahun ke 10, dan hanya satu dari dua perkawinan yang dapat sampai berusia 15 tahun. Di Indonesia belum ada angka-angkanya, namun nampaknya tren-nya semakin meningkat, khususnya dikalangan artis atau pasangan yang bekerja (working couples).
Menurut Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, Nazarudin Umar, Indonesia berada diperingkat tertinggi yang memiliki angka perceraian paling banyak dalam setiap tahunnya, dibandingkan negara Islam didunia lainnya. Tulisan singkat ini berusaha membahas: Apa yang dapat membuat suatu perkawina berlangsung lama, langgeng dan tetap harmonis?

Pertunangan: perlu atau tidak?
Ada silang pendapat mengenai perlu atau tidaknya pertunangan. “Tunangan itu perlu. Buat penjajakan sebelum nikah. Kalo nggak cocok ya putus saja. Lebih mudah putus tunangan daripada cerai setelah menikah,” kata seorang wanita. “Nggak usah pakai tunangan. Biar kata udah nikah, ada anak segala, kalo emang udah nggak bisa diselamatkan ya divorce,” kata wanita lainnya lagi. “Mau pakai engagement atau langsung married, masalahnya ada nggak niat untuk me-manage hubungan? Masa sih nikah buat bercerai? Lantas buat apa kita pacaran serius?” wanita lainnya menimpali.
Sebelum memasuki gerbang perkawinan, umumnya prosesnya adalah perkenalan, saling tertarik, pacaran dan dilanjutkan ke pertunangan. Masa pertunangan sebetulnya dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada kedua belah fihak untuk saling mengenal pribadi masing-masing dan menyesuaikan atau memperkecil (fine-tuning) perbedaan-perbedaan yang ada diantara mereka. Bahkan di negara-negara Barat yang nilai-nilai moralnya sangat longgar, pada masa pertunangan kedua pasangan sudah hidup bersama satu rumah, sebagaimana layaknya suami istri. Kalau demikian tujuan petunangan, maka logikanya semakin lama masa pertunangan tentunya akan semakin berhasil suatu perkawinan. Gejolak dan kejutan-kejutan yang muncul sebagai akibat perbedaan nilai, kebiasaan, kepribadian, diharapkan sudah tidak ada lagi. Nampaknya tidak selalu demikian.
Dalam masa pertunangan, walaupun kedua belah fihak telah berusaha untuk saling terbuka, namun tetap ada sisi-sisi pribadinya yang tidak seluruhnya terungkap kepada pasangannya. Menurut teori Joharry window, tidak semua jendela pribadi kita dapat dilihat oleh pasangan kita. Masing-masing berusaha menyenangkan pasangannya dengan menutupi kekurangannya. Kalau ceweknya penggemar berat lagu dangdut, padahal cowoknya tidak suka, maka si cowok masih berpura-pura menyenangi lagu dangdut. Kalau cowoknya suka makan pete, padahal ceweknya paling nggak tahan bau pete, maka si cewek masih berpura-pura bilang "ah nggak apa-apa". Dalam masa pertunangan semua yang dilakukan pasangannya tampak indah. Lagu yang selalu dinyanyikan adalah "disini senang disana senang".
Jadi walaupun pertunangan memang diperlukan untuk saling menyesuaikan diri, namun lamanya masa pertungan tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Setelah memasuki dunia perkawinan perbedaan-perbedaan yang selama ini tidak kelihatan, muncul semua. Kepribadian aslinya keluar semua. Lagunya akan berubah menjadi : "Buah semangka berdaun sirih, aku begini engkau begitu."

Apa peran cinta?
Untuk generasi kita, umumnya perkawinan dilandasi oleh cinta. Ada juga beberapa kasus dimana perkawnan tidak didasari cinta, misalnya karena dijodohkan, atau terpaksa karena sudah terlanjur tua daripada tidak kawin. Pertanyaannya: Perlukah cinta dalam menjalin hubungan suami istri dan membina rumah tangga ? Jawaban yang diterima biasanya adalah “perlu, bahkan mutlak!”. Tetapi sebagian antropolog berpendapat “penelitian terhadap sekian banyak masyarakat primitive membuktikan masyarakat tersebut tidak mengenal apa yang kita namakan cinta”. Tidak usah jauh-jauh, orang-orang tua kita dari generasi sebelum tahun 50-an banyak yang perkawinannya dijodohkan, jadi tanpa melalui proses cinta. Perkawinan ini langgeng, jarang sekali ada perceraian terjadi di perkawinan-perkawinan lama. Barangkali falsafahnya : lebih baik mencintai orang yang dinikahi daripada menikahi orang yang kita cintai."
Dikelompok etnis tertentu, seperti warga keturunan Arab, perkawinan diusahakan terjadi didalam kelompoknya. Laki-laki Arab masih bisa kawin dengan perempuan non-Arab, tetapi untuk perempuannya harus kawin dengan sesama Arab. Jadi, disini tidak ada kebebasan untuk memilih jodohnya atas dasar cinta.
Apakah perkawinan yang dilandasai cinta lebih awet dibanding dengan perkawinan tanpa cinta? Belum ada penelitiannya. Mungkin ya, tetapi sekali lagi, cinta saja tidak menjamin langgengnya suatu perkawinan. Dari pasangan-pasangan yang berakhir dengan perceraian, sering terdengar ungkapan: "sebetulnya saya masih cinta, tapi nampaknya perbedaan diantara kita sudah tidak dapat dikompromikan lagi". Jadi, cinta yang begitu kuat dan mendalam tidak bisa menghilangkan adanya perbedaan.

Daya tarik fisik.
Tidak bisa dipungkiri bahwa cinta diawali dengan ketertarikan fisik. Semua orang senang melihat dan memiliki sesautu yang indah dan cantik. Setiap orang ingin mempunyai istri/suami yang cantik/cakap, walaupun kecantikan itu relatif untuk masing-masing orang. Pepatah mengatakan "beauty is in the eyes of the beholder", atau kecantikan itu tergantung dari siapa yang melihatnya. Salah satu kebutuhan dasar wanita adalah ingin tampil cantik. Wanita, dalam situasi apapun, ingin selalu tampak cantik dan menarik. Segala macam cara tersedia untuk membuat wanita tampil cantik. Mulai dari bedah plastik, vermaak hidung, sedot lemak, pasang susuk semuanya ada, asal kuat bayarnya. Di Amerika pernah ada suatu penelitian, pada masa resesi ekonomi salah satu industri yang tidak terpengaruh adalah industri kosmestik. Artinya, walaupun dalam keadaan ekonomi sulit wanita berusaha untuk tetap tampil menarik.
Wanita juga ingin kelihatan cantik dimata suaminya. Tentu harapannya agar suami tetap sayang, betah dirumah dan tidak melirik wanita lain. Memang ada benarnya. Suami mana yang betah dirumah kalau setiap hari lihat istrinya awut-awutan, nggak menjaga badannya, nggak pernah dandan. Tetapi kecantikan saja tidak menjamin sang suami tetap setia dengan satu istri. Banyak suami-suami yang istrinya cantik-cantik tetap saja selingkuh. Ada ibu-ibu yang tiap tahun operasi plastik suapaya tetap cantik, masih saja ditinggal suaminya pacaran. Tamara Brezenky, Sofia Lajuba, Dewi Sandara, Halimah, kurang apa cantiknya. Toh perkawinannya juga kandas ditengah jalan. Mungkin diperlukan lebih dari sekedar kecantikan fisik untuk mempertahankan langgengnya perkawinan. Istilahnya sekarang "inner beauty" atau kecantikan yang memancar dari dalam.

Bagaimana dengan anak-anak?
Kehadiran anak sangat diantikan oleh semua pasangan. Saya kira ini sangat universal dan manusiawi, walaupun di negara-negara Barat ada juga aliran yang mau kawin tapi tidak mau punya anak. Suami istri mulai gelisah dan cemas, (termasuk kedua orang tua) setelah perkawinan berlangsung empat atau lima tahun tetapi belum juga dikarunia anak. Banyak pasangan yang harus bercerai dengan alasan tidak punya anak. Suami kawin lagi karena ingin punya keturunan. Biasanya yang selalu disalahkan fihak wanita, yang dianggap tidak bisa memberi keturunan. Sebetulnya kalau yang diinginkan adanya kehadiran anak-anak, masih ada jalan keluarnya. Misalnya dengan mengambil anak angkat.
Lantas, kalau sudah punya anak banyak tentunya tidak akan bercerai, kalau anak merupakan salah satu tujuan perkawinan. Banyak perceraian tetap saja terjadi walaupun sudah dikaruniai anak banyak. Memang faktor adanya anak menjadi salah satu pertimbangan yang paling berat sebelum memutuskan untuk bercerai. Tetapi adanya anak-anak tidak menjamin bahwa perceraian tidak akan terjadi. Adanya anak tidak menghilangkan perbedaan yang ada diantara suami istri.

Sumber konflik
Adanya perbedaan-perbedaan diatas apabila tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber konflik dan dapat memicu perselisihan antar suami istri. Ketidaksepahaman dapat terjadi untuk masalah-masalah :
  1. Masalah keuangan, termasuk cara memperoleh dan membelanjakan penghasilan keluarga.
  2. Lingkungan pergaulan dan pertemanan suami atau istri. Suami yang dididik dengan aturan moral dan agama yang ketat, tidak bisa menerima pergaulan istri yang terlalu bebas diluar.
  3. Pendidikan anak-anak, misalnya dalam pemilihan sekolah ataupun cara medisiplinkan anak-anak.
  4. Persoalan hubungan dengan keluarga besar istri atau suami, seperti mertua yang terlalu ikut campur, saudara-saudara atau ipar yang terlalu sering minta bantuan dls.
  5. Persoalan pemilihan kegiatan rekreatif, minat terhadap kegiatan diluar rumah antar suami dan istri.
  6. Persoalan pembagian tigas domestik dan non-domestik antar pasangan.
  7. Aktivitas tertentu atau hobi dari salah satu pasangan yang tidak disukai oleh suami/istri. (minuman keras, judi, narkoba)
Sumber-sumber konflik diatas kalau tidak dapat dikelola dengan baik akan menjadi awal dari pecahnya suatu perkawinan.

Mengelola perbedaan
Jadi, dapat disimpulkan masa pertunangan, rasa cinta yang mendalam, daya tarik fidik, dan kehadiran anak-anak tidak akan menghilangkan adanya perbedaan antar pasangan. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dikelola dengan seksama. Perbedaan itu indah karena membentuk berbagai corak dan warna dalam suatu sinergi yang serasi. Cara mengelola perbedaan ialah dengan mencoba menghargai dan memahami cara berfikit fihak lain. Kita harus sadar bahwa istri atau suami adalah orang lain, dan akan tetap menjadi orang lain sampai kapanpun. Dalam berkomunikasi kita harus selalu mencoba menempatkan diri kita sebagai istri/suami kita untuk memahami mengapa dia berpendapat demikian atau mengambil tindakan tersebut. (put on someone else's shoes) Komunikasi harus dilandasi kesetaraan, kejujuran, saling percaya dan menganggap istri/suami kita sebagai bagian dari team work. Dengan berjalannya perkawinan, diantara kedua belah fihak akan timbul rasa saling toleransi dan menghargai. Kunci dari kekalnya perkawinan adalah saling toleransi, saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Rabu, 23 Juli 2008

Cita-cita

Sejak kecil anak-anak sudah sering ditanya :”Nanti kalau sudah besar mau jadi apa.”. Sebenarnya yang ingin ditanyakan apa cita-citanya nanti. Cita-cita seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Lingkungan terdekatnya, seperti apa yang dikerjakan orang tua, ayah atau ibunya, sangat mempengaruhi pilihan cita-cita mereka. Yang ayahnya dokter akan cenderung memilih dokter sebagai cita-cita, begitu pula yang ayahnya polisi nanti kalau sudah besar ingin jadi polisi. Lingkungan terdekat kedua adalah sekolahan. Setelah anak mulai masuk sekolah, hampir sepertiga waktunya dihabiskan di sekolah. Tambahan pengetahuan dari guru tentang berbagi-bagai jenis profesi akan membentuk idealisme cita-cita anak-anak.

Ayah saya dulu seorang tentara, tetapi bukan bagian perang. Waktu revolusi memimpin pabrik karet yang disulap menjadi bengkel persenjataan di daerah Batujamus, Karangpandan, Surakarta, dengan tugas memperbaiki senjata dan menyiapkan amunisi untuk para pejuang. Sesudah penyerahan kedaulatan ditugaskan untuk menjadi komandan Dinas Tehnik Tentara (DTT), atau kalau sekarang namanya Peralatan Angkatan Darat (PALAD), di Solo. Sejak kecil saya dan kakak-kakak saya nampaknya tidak begitu tertarik untuk menjadi tentara. Mungkin karena tidak pernah mendengar cerita-cerita pengalaman heroik dari ayah saya. Sedang cerita-cerita masalah tehnik pabrik senjata agak sulit untuk dicerna anak-anak. Jadi kalau ditanya, saya dan kakak-kakak, tidak pernah bilang ingin jadi tentara.


Ayah saya tukang radio

Ayah saya adalah seorang tehnisi komplit, hasil pendidikan jaman Belanda dulu. Mulai dari mekanik (mobil, alat-alat listrik dan mesin-mesin besar), elektronik (radio dan alat-alat komunikasi) sampai ke presisi seperti jam dan alat-alat ukur lainnya, bisa semua.. Berkat keahliannya ini, dijaman Belanda ayah bekerja sebagai tehnisi di pelabuhan dengan gaji disamakan dengan gaji seorang tehnisi Belanda. Ayah saya sering bernostalgia betapa enaknya hidup di jaman kolonial dulu. Namun yang menjadi spesialisasinya adalah elektronik, atau pada waktu itu utamanya radio.

Sehabis pulang kantor, jam 2 siang, ayah bisa berjam-jam menghabiskan waktunya utntuk mengotak-atik radio. Biasanya ayah membeli radio bekas atau amplifier yang rusak, kemudian diperbaiki, lantas kalau ada yang berminat dijual. Bisa untuk menambah penghasilan memang, namun sebenarnya lebih banyak untuk menyalurkan hobinya dibidang elektronik. Karena selalu laku dijual maka di rumah hampir tidak pernah punya radio yang bagus untuk dipajang. Ibu selalu mengeluh, tukang radio kok nggak pernah punya radio.

Di rumah sosok ayah lebih nampak sebagai tukang radio daripada seorang tentara. Sejak awal ayah juga tidak pernah berusaha memperkenalkan dunia elektroniknya kepada anak-anak. Walaupun kalau lagi memperbaiki radio saya sering disuruh-suruh untuk mencari alat-alat ini dan itu, tetap saja dunia keradioan tidak menarik bagi saya. Bukan berarti saya tidak menikmati hasil kerja ayah saya. Berkat radionya yang canggih saya bisa menangkap siaran Radio Hilversum Nederland atau Radio ABC, Australia, mengungguli teman-teman di sekolah.


Guru tokoh idola

Setelah mulai sekolah saya betul-betul kagum dengan profesi guru. Bagi saya guru adalah sosok yang hebat sekali. Bukan saja sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teman, bapak dan tempat dimana segala macam pertanyaan bisa diajukan. Salah satu guru saya yang sangat berkesan dalah Bu Narti, guru klas empat. Beliau sering mengisi jam-jam pelajaran terakhir dengan bercerita. Cerita tentang apa saja, pengalaman-pengalamannya, cerita dari buku-buku atau film yang pernah dibaca atau ditontonnya. Namun yang paling berkesan adalah Pak Harno, guru klas enam. Masih muda, mungkin kira-kia usia 20-an, ganteng dan selalu kelihatan necis dengan bajunya yang bagus-bagus. Karena penampilannya, pak Harno bukan hanya menarik sebagai seorang guru, tetapi juga menarik sebagi seorang laki-laki. Saya bisa merasakan anak-anak perempuan di kelas nampaknya pada jatuh hati pada pak Harno. Saya kurang tahu persis pada waktu itu apakah beliau sudah berkeluarga atau masih bujangan.

Guru pada waktu itu memang mempunyai status sosial yang tinggi di masayarakat. Sampai tahun 60-an gaji guru masih relatif tinggi dan lebih dari cukup untuk hidup sehari-hari. Ukurannya sepeda yang dinaikinya, bukan sepeda motor atau mobil, karena hanya orang yang kaya yang bisa beli motor atau mobil. Rata-rata guru memiliki sepeda-sepeda seperti Raleigh, Humber, Fongers, Gazelle, merk-merk sepeda mahal pada waktu itu. Mungkin kekaguman saya terhadap profesi guru lebih banyak dipengaruhi penampilan fisiknya, yang kelihatannya serba enak dan berkecukupan.

Sampai SMA saya masih bercita-cita ingin jadi guru. Salah satu guru saya yang saya kagumi adalah pak Hartanto, guru bahasa Indonesia. Saya masih ingat ketika di kelas membahas penyair Chairil Anwar dengan sajaknya yang terkenal “Aku”. Beliau begitu bagusnya dan intens dalam memperagakan penyair ini sehingga kita bisa membayangkan seperti apa tokoh yang terkenal kontorversial ini. Begitu pula dengan pak Suwadji, guru Aljabar ayahnya pak Pranowo Suwadji. Beliau ini terkenal galak, keras dan disiplin, namun semuanya dengan obsesi bagaimana supaya anak didiknya menjadi pintar. Lama sekali kekaguman saya kepada bekas guru-guru saya membekas di lubuk hati kami. Guru bukan hanya sekedar digugu dan ditiru, tetapi juga dihormati dan dikagumi.


Kapan ingin menjadi bankir?

Pada waktu saya kuliah, kira-kira awal tahun 60, ketika itu sedang jaya-jayanya perusahaan negara(PN) seperti Panca Niaga, Dharma Niaga, Kerta Niaga. Jamannya jual lisensi, kuota, dan monopoli yang diberikan pemerintah, membuat PN betul-betul berkibar. Saya perhatikan kehidupan pejabatnya kelihatan enak-anak dengan rumah dinas, mobil bagus dan berbagai fasilitas lainnya. Sedang disisi lain, ekonomi semakin memburuk, inflasi tinggi, harga-harga membubung terus dan kehidupan semakin sulit. Profesi pegawai negri dan guru saya lihat sudah tidak menarik lagi. Jadi sekarang saya ganti cita-cita, ingin kerja di PN kalau sudah selesai kuliah nanti.

Sekitar tahun 68 ditempat saya kost mendapat tambahan 2 penghuni baru, mas Hari, pegawai Dinas Metrologi dan mas Akhsan, pegawai BKTN (BRI) Kantor Daerah Semarang. Dengan mas Hari saya tidak terlalu dekat, ya sekedar kenal sesama teman satu kost. Sebaliknya, dengan mas Akhsan saya sangat dekat, sering diajak nonton atau makan direstoran. Dari mas Akhsan inilah berawal ketertarikan saya untuk bekerja di bank. Saya lihat setiap hari kalau berangkat ke kantor dijemput bus, pakaiannya selalu necis, baju putih dengan celana gelap dari bahan yang halus. Tiap Minggu pagi dengan pakaian olah raga putih-putih berangkat main badminton. Suatu ritme kehidupan yang ideal sekali. Saya tidak tahu posisinya apa di bank, tapi nampaknya uangnya cukup banyak. Untuk orang indekost-an, ukuran orang kaya itu sederhana, baju bagus ditambah tiap minggu bisa nonton atau makan di restoran sudah cukup.


Persepsi atas sukses

Begitu lulus dari fakultas ekonomi Undip tahun 1972, saya ikut-ikutan teman-teman yang lain ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Cita-cita untuk kerja di PN atau bank hilang semua. Pokoknya pekerjaan apa saja yang pertama didapat akan saya ambil, supaya bisa survive di Jakarta. Pertama kali saya mendapat pekerjaan sebagai auditor junior di SGV-Utomo, sebuah kantor akuntan patungan Indonesia-Pilipina yang berkantor di jalan Thamrin. Saya hanya bertahan setahun di kantor ini. Saya tidak melihat prospek yang cerah di kantor ini, karena latar belakang pendidikan saya bukan akutansi. Disamping itu sebagai orang yang biasa bertahun-tahun di daerah, hidup di Jakarta ternyata susah juga. Saya masih ingat gaji saya waktu itu Rp30,000. Untuk bayar kamar Rp12,500, sisanya untuk makan dan transport(bus kota), betul-betul kehidupan yang pas-pasan.

Ketika membaca iklan sebuah bank pemerintah (BRI) mencari tenaga untuk dididik menjadi calon pimpinan, maka tanpa menunggu-nunggu lagi saya langsung mendaftar. Bayangan saya dengan bekerja di bank saya akan mempunyai kesempatan menjadi pejabat, punya pangkat, kedudukan dan kehidupan yang enak. Cita-cita, apakah mau menjadi guru, tentara, pegawai PN atau bankir sebetulnya tidak relevan lagi. Yang ada keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tidak perduli profesinya apa. Kalau kebetulan lowongan yang muncul pertama dulu Pertamina, atau Departemen Keuangan, atau Garuda, mungkin saya tidak akan menjadi pejabat di BRI..

Jadi di masyarakat yang disebut sukses itu punya pangkat, jabatan dan kaya. Kalau ada seseorang dengan jabatan tinggi tetapi melarat dianggap bodoh dan gagal. Kalau seseorang ingin jadi polisi, jaksa, hakim, bankir, bupati, atau menteri, sebetulnya tidak selalu untuk memenuhi idealisme sejak kecil, tetapi lebih banyak sebagai sarana untuk mencari sukses dalam pengertian diatas. Ketika pertama diterima bekerja di BRI dulu, gaji saya Rp16.500 sebulan ditambah beras 15 kg, tetapi saya optimis bahwa di BRI saya akan bisa hidup lebih baik. Ketika ada lowongan pegawai negri, ribuan orang melamar, walaupun kita tahu menjadi pegawai negri sipil (PNS) gajinya kecil. Persepsi bahwa PNS hidupnya enak-enak mendorong banyak orang meniti karir sebagai Pegawai negri.


Cita-cita orang tua dan masa depan anak.

Seperti orangtua yang lain, tadinya saya juga bercita-cita agar anak-anak menjadi sarjana semua. Ketika Doni, anak saya yang paling besar, lulus SMA, saya dorong untuk meneruskan kuliah. Saya tidak terlalu mengarahkan harus kuliah dimana. Pengalaman kurang menyenangkan berurusan dengan penegak hukum sewaktu bertugas di BRI, membuat saya berharap anak-anak tidak memilih profesi dibidang hukum seperti : jaksa, hakim, pengacara atau polisi. Doni berhasil menyelesaikan Sarjana Tehnik-nya dari Trisakti dan memperoleh MBA dari University of Baltimore, Maryland. Pulang dari Amerika bekerja di Astra-Graphia, sampai sekarang.

Vitry, adiknya yang selisih 5 tahun, sedikit berbeda. Ketika selesai SMA tidak mengatakan ingin kuliah dimana, tetapi ingin bekerja dibidang jurnalisme. Jadi sejak awal memang sudah jelas profesi yang akan dipilihnya nanti. Ketika dia kuliah, obsesinya bukan untuk mencari gelar sarjana, tetapi mencari ilmu dan keahlian dibidang jurnalisme. Sejak SMA memang sudah kelihatan bakatnya dalam event-organizing atau mengelola majalah dinding. Vitry berhasil memperoleh S1 dari University of Oregon dibidang journalism dengan spesialisasi broadcasting. Setelah kembali ke Indonesia sempat bekerja di beberapa advertising agency selama 2 tahun. Sekarang dia mengelola perusahaan sendiri yang bergerak dibidang iklan dan promosi, pembuatan brosur, company profile, annual report dan website.

Saya kurang tahu mewarisi dari siapa, tetapi nampaknya darah seni mengalir ditubuh Didit, anak saya nomer 3. Ketika masih SMP klas 1, di Surabaya, minta dibelikan gitar. Saya masih ingat betapa susahnya, dengan bantuan Handono, oomnya, dia mencoba menguasai ABC-nya chord gitar. Ketika SMA, diluar dugaan saya, bakat musiknya, baik gitar maupun tarik suara, berkembang pesat. Saya coba salurkan dengan membelikan seperangkat alat musik lengkap. Ketika selesai SMA, berbeda dengan kakak-kakaknya, tidak terdengar kata-kata sedikitpun tentang rencananya selepas SMA. Walaupun tidak pernah diutarakan, saya bisa merasakan kalau Didit bercita-cita ingin menjadi pemusik.

Perlu diingat bahwa seniman cenderung berpembawaan santai, seenaknya, acuh, kurang perduli terhadap lingkungannya. Seniman juga kurang senang dengan hal-hal yang serba teratur dan yang bersifat sudah mapan. Ahli psikologi mengatakan seniman lebih kuat otak kanannya, sehingga lebih menyukai situasi yang memberikan dia ruang untuk berkreasi dan berimajinasi. Hal-hal yang sifatnya anlalitis dan memerlukan kemampuan logika kurang disukai.

Berbekal dengan pengetahuan diatas saya tidak akan meminta Didit untuk sekolah yang konvensional, seperti hukum, ekonomi, atau bisnis. Sebagai gantinya saya kirim ke sekolah perhotelan di Blue Mountain, Australia. Hanya bertahan satu setengah tahun, gagal. Ternyata mengirim anak ke sekolah perhotelan hampir seperti mengirim anak ke akademi militer. Jadwal yang padat, kehidupan asrama dengan disiplin yang ketat, tugas-tugas yang berat sangat tidak cocok dengan jiwa anak saya yang seniman.

Kembali dari Australia Didit saya beri kebebasan untuk sekolah kemana. Dia memilih mengambil D3 dibidang desain computer dan multi media, bidang-bidang yang lebih mudah dicerna jiwa senimannya. Namun kali ini lebih bersemangat, karena disamping sekolah juga bisa menyalurkan bakat musiknya. Sekarang dia bekerja sebagai creative designer di perusahaan kakaknya dengan tetap bermain musik sebagai profesi.

Novi, anak saya yang ke empat, perempuan, adalah anak mamah. Kita terlalu protektif sejak kecil, kemana-mana diantar. Bahkan saya tidak pernah mengijinkan dia pergi-pergi dengan naik kendaraan umum, takut ada apa-apa. Akibatnya dia tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, walaupun kemampuan intelegensianya tinggi. Selepas SMA juga tidak ingin meneruskan kuliah, tetapi memilih sekolah mode.

Selesai sekolah di ESMOD, sekolah mode dari Perancis yang membuka cabang di Indonesia, kemudian melanjutkan mengambil fashion business di LASSALE. Sempat bekerja selama satu tahun di perusahaan garment milik orang India. Tidak tahan, karena jam kerjanya seperti rodi dengan gaji kecil. Sekarang dia bekerja dirumah dengan menerima jahitan. Cukup berhasil, karena banyak menerima pesanan dari ibu-ibu klas atas atau dari kantor-kantor. Namun masih tetap stress berat kalau ada langganan yang mengeluh soal kualitas jahitan.


Pelajaran buat orang tua

Sebagai orang tua sebaiknya kita tidak memilihkan cita-cita untuk anak-anak kita. Biarkan mereka menentukan cita-citanya sendiri. Yang lebih penting mempersiapkan anak-anak dengan memberi bekal nilai-nilai moral yang baik. Nilai-nilia seperti disiplin, kejujuran, amanah dan integritas perlu ditanamkan sejak dini. Pemilihan pendidikan anak-anak juga harus memperhatikan pembawaan, bakat dan karakteristik kejiwaan anak. Jangan terlalu memaksa anak-anak untuk jadi sarjana. Memang bangga punya anak-anak sarjana semua, tetapi apa gunanya punya anak-anak sarjana kalau nganggur semua. Biarkan mereka memilih pendidikan yang sesuai dengan bakatnya dan memudahkan mereka untuk mencapai cita-citanya, walaupun tidak memberi gelar sarjana.




Minggu, 15 Juni 2008

Wisata kuliner di Jogya (1)

Pendahuluan

Sejak Ari, anak saya yang paling kecil, kuliah di UGM , saya jadi sering ke Jogya. Paling tidak 2 bulan sekali saya ke sana sama nyonya. Disamping untuk menengok anak, juga untuk sejenak ganti suasana , melepaskan diri dari panas, kotor, bising dan macetnya kota Jakarta. Kalau ke Jogya sering bingung mau bawa pakaian apa. Soalnya merasa sudah ninggal beberapa pakaian disana tetapi selalu lupa yang mana. Maklum sudah kepala enam, jadi sering lupa. Jadi supaya tidak lupa dan kalau ke Jogya tidah usah banyak-banyak bawa ganti, sebaiknya saya catat dan saya masukkan ke blog. Bukan sok internetan, tapi kalau dicatat di tempat lagi nanti susah lagi nyarinya. Yang sudah ditinggal di tempat kost Arie antara lain :
3 Kaos golf panjang
2 T shirt
2 kaos oblong untuk tidur
1 celana training
1 handuk besar
1 baju lengan pendek
Kalau pas ada di Jogya sering diajak teman-teman main golf di Adisucipto. Nah saya juga nyimpan perlengkapan golf. Supaya tidak usah berat-berat bawa alat-alat golf, sebaiknya dicatat juga apa saja yang sudah saya simpan di sana.
Perlengkapan olah raga
1 set golf clubs tanpa putter
1 sepatu sepatu golf kulit + kaos kaki
1 sepatu jogging
1 tas ganti golf
1 tas bola + glove dan bola
2 topi golf
Tulisan diatas sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wisata kuliner, tapi hanya untuk membantu ingatan saya soal bawa ganti baju.

Soto sapi pak Ngadiran

Hari Minggu pagi, tgl 15 Juni 2008, jam 7.30 pagi saya sudah mendarat di Adisucipto Airport. Dari rumah berangkat habis sholat Subuh, berarti belum sempat sarapan. Sampai di Sawit Sari, tempat kost Ari, pertanyaan pertama ; "Makan dimana Ri?". Ari langsung menyarankan ke soto daging sapi Pak Ngadiran. Dia tahu, kalau di Jogya saya selalu mencari makanan-makanan yang tradisional, yang enak tapi dengan harga yang realtif murah. Bukan mau ngirit, tetapi serasa ada kenikmatan tersendiri kalau bisa makan murah tapi rasanya masih mak nyuus.
Soto Pak Ngadiran terletak di daerah Klebengan, masuk dari Gading Mas, atau dari selokan Mataram. Agak susah kalau harus nyari sendiri, mungkin lupa lagi bisa nggak ketemu.
Resto ini nampaknya memang murah meriah. Pagi-pagi sudah penuh pengunjung, terutama dari kalangan mahasiswa. Menu andalan memang hanya soto sapi, tetapi dengan beberapa variasi : misalnya soto sapi campur (nasi), soto pisah, soto sapi daging dobel. Ada juga soto campur kuah (alias tanpa daging). Wah kalau yang ini namanya sudah ngirit banget. Mungkin untuk mahasiswa yang lagi telat kirimannya. Untuk sekedar informasi harga, soto daging campur Rp4.500, tempe goerng Rp300, es jeruk Rp1.500.

Tips untuk Anda, makan soto Pak Ngadiran tidak lengkap rasanya kalau tidak ditemani tempe goreng tepungnya yang berukuran mini dengan rasanya yang maxi. Kalau mau lebih nikmat lagi, pesanlah babat gorengnya yang bernuansa manis-gurih untuk melengkapi citarasa hidangan anda. Jangan lupa dengan krupuk kritingnya. Sambelnya enak, dicampur kecap bisa untuk teman makan tempe, hanya menurut saya agak terlalu pedas

Warung Makan Lombok ijo, sego abang
Saya makan disini untuk pertama kali dibawa Pak Bambang Setiari, pensiunan BRI yang berwiraswasta dengan usaha tanaman hias di jalan Kaliurang. Lokasinya agak jauh dari pusat kota, di daerah Pakem di pinggir jalan raya menuju Tempel. Tepatnya di Jl Pakem Turi Km 1, Sleman.
Sangat tradisional, bangunan dari bambu sederhana, suasana sangat rumahan sekali. Bisa duduk di kursi atau lesehan, ditemani gemericik air yang mengalir di sawah dan ditiup angin sejuk dan segar dari gunung Merapi. Makanannya sangat sehat, khas Gunung Kidul yang jarang ditemui lagi di kota-kota besar. Beras merahnya gurih dan pulen. Daging empal dan ayam gorengnya empuk sekali, dibumbu agak manis tetapi terasa pas di lidah. Sayur lodehnya hanya berisi tempe dan irisan cabe ijo. Sayur daun papayanya tidak terasa pahit sama sekali, malah agak sedikit manis. Dan jangan lupa pesan teh kenthel gula batu. Sambil menunggu pesanan, kita bisa ngemil rempeyek kedele hitam. Pelayanan cepat, walaupun banyak tamu tetapi tidak terlalu lama menunggu. Pemiliknya sangat ramah. Ketika kelihatan minuman sudah hampir habis, dia sendiri yang mengisi lagi. Begitu pula ketika kita selesai makan dan mau pulang, dia ikut mengantar sampai kedepan. Betul-betul keramahan Jogya yang sukar dilupakan.
Menu favorit ;

Nasi beras merah
Empal daging
Ayam goreng
Tahu/tempe bacem
Sayur lodeh lombok ijo
Sayur daun papaya
Bothok mlanding
Teh poci gula batu
Trancam
Menu diatas adalah sudah standar, artinya begitu kita duduk tidak usah pesan langsung disediakan. Sistemnya hampir kaya rumah makan Padang, tidak usah dihabiskan semua, kita hanya bayar yang kita makan. Praktis sekali.

Cowmad, tempatnya penggila sapi
Senin malam (16/6/08) Ari sama Ariana, pacarnya, ngajak makan malam di Cowmad, warung makan baru serba sapi, yang terletak Deresan, belakang Percetakan Kanisius, sebelah utara Happy Holy Kids.
Cowmad adalah warung makan untuk para penggila sapi, begitu kata si-empunya warung. Sajian utamanya memang daging sapi. Mulai dari sate, iga bakar, sup iga, sup buntut, sampai brongkos kikil. Tapi selain sapi-sapian, ada juga sayuran seperti brokoli bawang putih, kangkung hot plate dan tauge cah ikan asin. Minumannya juga beraneka ragam, mulai dari minuman tradisional seperti kunir asem dan jamu komplit sampai dengan aneka juice dan minuman dengan nama sapi-sapian seperti The Matador dan Sexy Cowmad. Untuk yang tidak ingin makan berat, Cowmad juga menyediakan cemilan berupa kentang goreng dan pisang goreng/bakar. Lengkap lah pokoknya!
Kami berempat memesan menu yang berbeda-beda, supaya bisa saling mencicipi menu masing-masing. Saya pesan Sapi bumbu mongolian, karena digambar kelihatan enak dan porsinya besar. Ternyata porsinya kecil sekali. Nyonya pesan sup buntut goreng, yang rupanya kurang begitu meresap bumbunya dan dagingnya agk keras. Ariana pesan iga bakar hoisan. Wah yang ini siip banget, mak nyuus. Ari pesan sup iga "selangit", ternyata tidak selangit rasanya. Kurang lebih sama dengan sup buntunya.
Tempatnya cukup nyaman. Tempat makan utama berada di rumah kayu dengan gaya joglo, meja sisanya ditata di taman sekeliling rumah. Di bagian belakang sekarang sedang dibangun meeting room, jadi bagi yang ingin rapat sambil makan daging sapi, langsung saja datang ke Cowmad (kalau meeting room-nya sudah jadi.. hehehe...)
Harga makanan dan minuman Cowmad tidak murah untuk ukuran Jogya, namun cukup terjangkau. Tamu yang naik motor juga berani mapir ke sini. Harga minuman sekitar 8000 rupiah dan makanan berkisar di 19.000 rupiah sampai 25.000.


Brongkos Bu Padmo
Brongkos adalah seperti sayur lodeh tetapi memakai kluwek, sehingga warnanya kehitam-hitaman. Berbeda dengan brongkos vegetarian yang isinya didominasi sayuran (labu siem dan kacang tolo), brongkosnya bu Padmo isinya hanya daging sapi. Orang Surabaya bilang ini rawonnya orang Jawa. Walaupun cukup banyak warung nasi brongkos di Jogya, tetapi kalau kita tanyakan ke penggemar brongkos pasti mereka akan me-rekomendasikan ke warungnya Bu Padmo, Namanya Warung Ijo Bu Padmo, tempatnya di Pasar Tempel, dibawah jembatan kali Krasak yang menghubungkan perbatasan Jateng - DIY. Warungnya yang berwarna hijau nyempil ditengah kios-kios pasar lainnya. Saking sempitnya, kalau ada tamu lain yang selesai makan duluan kira sering harus berdiri semua untuk memberi jalan lewat.
Sekarang dibawah tulisan warung ijo ditambahi kata-kata "mak nyuus". Mungkin ini gara-gara pernah dikunjungi Pak Bondan, pengasuh acara Wisata Kuliner dari Trans-TV. Jangan sampai keliru, karena disekitar lokasi tersebut sekarang bermunculan warung-warung makan lain yang juga menyajikan menu brongkos.
Disamping brongkos, disini kita juga bisa memesan nasi pecel, nasi terik daging, atau nasi koyor, tapi tetap menu andalannya brongkos. Memang beda dengan brongkos vegetarian, brongkos yang satu ini aromanya khas masakan daging dengan keharuman rempah yang menghanyutkan. Rasanya sangat gurih dengan gigitan rasa pedas yang membuat tidak enek. Dagingnya empuk sekali dan lumayan banyak, satu porsi cukup kenyang untuk orang-orang seusia saya. Secara keseluruhan brongkos daging ini enak banget, meskipun sepertinya lebih cocok untuk makan siang karena citarasanya yang lebih berat.
Harganya betul-betul bersahabat. Tujuh ribu satu porsi, ditambah minum, krupuk dan tempe goreng jadi sepuluh ribuan. Warung ijo ini ternyata sudah lumayan lama beroperasi, 50-an tahun. Dan yang lebih hebat lagi, Bu Padmo walaupun sudah sepuh, 80 tahun, masih ada dan masih sering mengecek keaslian rasa brongkos yang layak mendapat titel pusaka kuliner Jogya ini. Tapi harap diingat, meskipun sudah sangat beken warung yang satu ini tidak pernah buka cabang di tempat lain.

Bakmi Pak Mardi, Muntilan
Kalau ke Jogya biasanya tidak pernah saya lewatkan untuk makan bakmi Jawa. Dulu sewaktu masih dinas di BRI, setiap turne ke Joigya tiap malam selalu makan bakmi Jawa. Jadi kalau dinasnya tiga hari, ya tiga malam makan bakmi terus. Teman-teman turne sering kesel, karena tentunya bosen tiap malam kok makan bakmi terus. Hampir semua warung bakmi di Jogya sudah saya coba, ada Mundiyo, Kadin, Prawirotaman, Jombor, mbah Mo di Bantul sampai Pakem.
Kali ini saya diajak pak Bambang Setiari untuk mencoba bakmi Pak Mardi, yang katanya lain dari yang lain. Tempatnya di Tugu Besi, Lakar Santri, Muntilan. Untuk lebih tepatnya, kalau mau ke sana tanya saja sama BRI Muntilan. Di Muntilan ternyata terdapat suatu lokasi yang kalau malam hari penuh dengan warung-warung tenda yang berjualan segala jenis masakan, namun kebanyakan bakmi Jawa atau sate kambing.
Warung pak Mardi ini juga warung tenda yang kecil, diisi dua meja panjang dengan 10 kursi. Waktu saya datang kelihatan sepi, hanya ada dua orang yang sedang makan. Ternyata kami sudah tamu yang ke 15. Rupanya untuk pelanggan yang sudah tahu, karena tidak mau menunggu lama-lama, mereka pesan jauh-jauh sebelumnya. Jadi baru datang kira-kira kalau gilirannya sudah hampir tiba. Harap maklum, bakmi Jawa dimasak satu persatu, jadi harus sabar menanti. Kami beruntung karena memang sudah pesan sebelumnya, lewat salah satu pegawai BRI Muntilan, jadi tidak harus berlama-lama menunggu.
Bakmi pak Mardi sebetulnya tidak jauh berbeda dengan bakmi Jawa yang lain, hanya rasa bawang putihnya yang sangat menonjol. Juga berbeda dengan warung bakmi Jawa yang lain, bumbu-bumbu tidak disiapkan sebelumnya tetapi diracik secara mendadak setiap kali memasak pesanan. Akibatnya pada waktu dimasak aroma bawang putihnya terasa sangat keras dan betul-betul menggugah selera. Disini menawarkan menu bakmi godog, bakmi goreng, magelangan (bakmi goreng campur nasi) dan nasi goreng. Menurut saya yang paling mak nyuus adalah bakmi gorengnya.
Bagaiman dengan harganya ? Saya tidak tahu persis berapa per porsinya, tetapi untuk 8 orang dengan minum jeruk anget dan tambah uritan (telur muda) saya membayar Rp82 ribu. Saya kira cukup murah.
Sedikit sejarah, pak Mardi ini dulu sebelum jualan bakmi jadi kuli bangunan, tugasnya mengaduk semen. Sekarang tiap malam mengaduk bakmi dan nasi goreng. Bakmi pak Mardi memang lain dari yang lain, hanya sayang agak jauh dari Jogya. Ingat kalau ke sana sebaiknya pesan tempat dulu, supaya nunggunya tidak terlalu lama.

Selasa, 10 Juni 2008

Kekayaan bahasa Jawa


Di Indonesia ada kebiasaan, khususnya di kalangan pejabat, kalau berbicara didepan publik selalu dicampur-campur dengan bahasa asing (Inggris). Mungkin karena tidak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang pas, tetapi bisa juga untuk gagah-gagahan supaya kelihatan modern dan pinter. Di lingkungan akademisi atau dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, penggunaan kata-kata asing memang sulit dihindari. Mencari padanannya dalam bahasa Indonesia disamping susah juga dapat menimbulkan salah arti, atau sulit dimengerti dikalangan ilmuwan. Malaysia lebih maju dari kita. Di sana ada upaya yang serius untuk secara maksimal menggunakan bahasa Malaysia dalam dokumen-dokumen resmi, walaupun untuk komunikasi lisan dikalangan intelektual dan bisnis umumnya masih menggunakan bahasa Inggris.

Sampai sekarang kalau ngobrol dengan teman-teman, khususnya dengan yang berasal dari Jawa, saya masih suka campur-campur dengan bahasa Jawa. Saya merasa dengan berbahasa Indonesia tidak dapat sepenuhnya menyampaikan maksud yang ingin saya utarakan. Bahasa Jawa rasanya lebih mengena dan mempunyai istilah yang lebih tepat untuk situasi-situasi tertentu. Coba simak ungkapan berikut ini: “Anake mati konduran truk.” Maksudnya adalah, anaknya mati karena ketabrak truk yang bergerak mundur kebelakang. Kita tidak bisa menterjemahkan dengan “anaknya mati ketabrak truk”, karena ketabrak itu pengertiannya bisa dari depan atau dari belakang. Begitu pula dengan ungkapan: “Dalane gronjalan.” Yang ingin kita katakan adalah jalannya rusak, tidak rata dan mungkin berlubang-lubang, tetapi tidak ada satu kata Indonesia yang pas yang mewakili pengertian gronjalan. Kalau ada salah satu keluarga kita yang meninggal, apakah istri, anak atau orang tua, masyarakat Jawa mempumyai istilah khusus, yaitu kesripahan. Begitu pula pemberitahuan kalau ada yang meninggal, namanya “lelayu.” Kalau kita pergi ke undangan resepsi, bukan undangan rapat, disebutnya pergi jagong.

Untuk rasa yang berhubungan dengan sakit perut, bahasa Jawa mempunyai beberapa istilah, seperti : mlilit (rasa seperti kalau telat makan), senep (rasa seperti menusuk di perut), mules (kalau kita sedang diaree), dan sebah ( perut seperti penuh makanan dan terasa keras). Untuk baju atau kain yang robek ada beberapa istilah sesuai dengan tingkatan robeknya, dimulai dari yang paling rendah : suwek, bedhah dan yang paling parah amoh. Bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata untuk “melempar”, tidak membedakan apakah alat yang digunakan untuk melempar itu batu kecil, sedang atau batu besar. Orang Jawa membedakan antara dipathak (dengan batu kecil), dibalang (sedang) atau dibandhem (dengan menggunakan batu besar). Miskram atau keguguran hanya untuk manusia, kalau untuk binatang istilahnya keluron. Kalau ada yang mendorong dari belakang sehingga kita jatuh tertelungkup, disebut kejongor atau kejlungup. Kalau sebaliknya, sehingga kita jatuh tertelentang, disebut kejengkang.

Menurut ahli sosiologi, orang Jawa yang dulunya mayoritas agraris, mempunyai banyak waktu luang untuk mengotak-atik apa yang terjadi disekelilingnya, termasuk budaya bahasa. Barangkali hanya di Jawa kita mempunyai nama-nama yang lengkap khusus untuk anak-anak binatang. Kita mengenal anak anjing disebut kirik, anak sapi pedhet, anak kerbau gudel, anak kuda belo, anak harimau gogor, anak kucing cemeng, anak burung piyik, anak ayam kuthuk dstnya. Bahasa Indonesia hanya mengenal satu kata “malu”, digunakan untuk ungkapan rasa bersalah karena telah berbuat tidak sepatutnya terhadap orang lain atau takut ditertawakan orang lain. Bahasa Jawa mengenal beberapa istilah : isin atau lingsem (takut ditertawakan orang lain), sungkan atau rikuh (takut merepotkan orang lain), klincutan (malu, misalnya karena datang terlambat), wirang (malu karena telah berbuat hal yang tidak senonoh).

Berikut beberapa kausa kata bahasa Jawa yang susah dicarikan penggantinya yang pas dalam satu kata bahasa Indonesia: Cotho, tidak bisa mengerjakan sesuatu karena ada peralatan yang hilang. Misalnya kita akan memperbaiki sepeda yang rusak, tetapi ada salah satu kunci pas yang hilang sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa juga berarti repot. Sering kita mendengar orang mengeluh: Wah cotho, Iyah(pembantu RT) mudik nggak pulang-pulang. Prigel, mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus secara cepat dengan hasil yang baik. Prigel ini tingkatannya lebih tinggi dari terampil. Merak ati, ini berlaku untuk wanita yang dari segi penampilan menarik untuk dipandang. Merak ati tidak harus cantik, barangkali istilah Inggrisnya yang lebih tepat charming. Dalam sastra Jawa sering kita membaca: Merak ati eseme ngujiwat. Wah, yang ini lebih susah lagi mengalihkannya kedalam bahasa Indonesia. Gandhes, masih berhubungan dengan wanita yang dari tingkah laku serba luwes dan menarik. Cucuk, ini sebetulnya ada padanannya, yaitu “sepadan” antara hasil dengan pengorbanan. Namun diantara orang Jawa lebih senang menggunakan istilah cucuk.

Beberapa contoh lain : Ingah-ingih, penampilannya agak malu-malu seperti yang kurang percaya diri (PD). Clila-clili, hampir seperti ingah-ingih, tetapi ini karena kurang mengenal medannya. Seperti kalau kita datang sendirian ke undangan atau rapat dan ternyata disana tidak ada yang kita kenal, maka kita merasa clila-clili. Kapiran, tidak ada yang mengurusi sehingga menjadi terlantar. Sembada, kira-kira artinya tanggung jawab dan mampu mencukupi apa yang dibutuhkan. Misalnya kita mengundang teman main ke Jogya, lantas kita katakan :” Sudah jangan kawatir, nanti nginep dan makannya saya yang tanggung.” Gendulak-gendulik, orang yang ragu-ragu mengambil keputusan. Hari ini mengambil keputusan A, tidak lama berselang berubah B. Yang B belum dilaksanakan sudah ganti ke A lagi. Orang Jawa mengatakan: Gendulak-gendulik, apa sida apa ora. Cengengesan, sering ketawa sendiri tanpa alasan yang jelas. Dapat juga berkonotasi negatif, yaitu orang yang kalau diajak bicara tentang suatu hal memberi jawaban yang lain, dengan maksud untuk melucu tetapi tidak pada tempatnya.

Kalau ingin dilanjutkan masih ada beberapa contoh lagi : Jenggirat, tiba-tiba bangun, baik karena kaget atau takut. Awang-awangen, malas melakukan sesuatu karena takut tidak mampu melakukannya dengan baik. Mak jegagik, berhenti melakukan sesuatu karena tiba-tiba ada yang muncul didepan kita. Keblondrok, merasa tertipu, misalnya karena membeli barang tidak ditawar dengan baik sehingga kemahalan. Kemepyar, lepas-lepas, tidak lengket untuk nasi atau rasa segar dibadan sehabis meminum teh atau kopi panas. Kemrungsung, rasa cemas karena takut tidak bisa tepat waktu, misalnya karena mengejar pesawat. Grusa-grusu, berhubungan dengan tingkah laku yang serba buru-buru dan agak kasar. Kudu ngguyu, ingin ketawa sendiri karena ingat sesuatu pengalaman yang lucu.

Mungkin karena dirasa lebih mengena, banyak kata-kata bahasa Jawa yang sudah diadopsi dan diterima sebagai bahasa Inbdonesia. Antara lain : otak-atik, tetek-bengek, mumpung, ketimbang, risi(h), jajal, ampuh, bablas, bludag, brangus, wadhah, (m)entas, misalnya dalam pengentasan, gembar-gembor, gledhah, godhog, kemplang(ngemplang), kinclong. Mungkin kalau dicari di kamus bahasa Jawa, akan lebih banyak ditemukan contoh-contoh lagi. Yang kami uraikan diatas adalah bahasa Jawa versi Solo, untuk Jogya barangkali lain. Dospundi para sutresna basa Jawi? mBok menawi kagungan wawasan sanes? Sumonggo.