Kamis, 18 September 2008

Menonton film-film lama

Salah satu hobi saya adalah nonton film. Hobi ini sudah saya lakukan sejak kecil dulu sampai sekarang. Kalau dulu setiap kali nonton harus pergi ke gedung bioskop, sekarang cukup di rumah saja dengan menonton di TV. TV kabel menawarkan saluran yang khusus memutar film non-stop 24 jam. Sampai tahun 60-an, sebelum ada TV, hiburan yang ada hanya radio dan film. Memang ada pertunjukan wayang orang atau ketoprak, tapi daya tariknya masih kalah dibanding film. Program favorit radio adalah pilihan pendengar dan siaran radio tonil wayang orang atau ketoprak. RRI, satu-satunya stasiun radio pada waktu itu, memang menyiarkan juga lagu-lagu barat, tapi untuk mendengarkan lagu-lagu yang terbaru harus menyetel ke Radio Australia, BBC, atau Radio Hilversum Nederland. Tidak semua radio bisa menangkap siaran radio luar negri.

Lakon ketoprak yang pernah meledak adalah serial Djoko Sudiro yang disiarkan RRI Jogyakarta dan diperankan oleh pemain yang sangat legendaris, Tjokrodjio. Setiap Rabu malam jam 9.00 orang-orang tidak mau beranjak dari depan radio, sudah tidak sabar menunggu serial selanjutnya. RRI Surakarta tidak pernah menyiarkan ketoprak, tetapi siaran wayang orang. Pemain primadonanya Listiorini, yang memerankan Arjuna, salah satu putra Pendawa. Sebelum masuk kota Solo dari arah Semarang, terdapat restoran ayam goreng yang cukup terkenal, namanya Madukoro. (nama kerajaannya Arjuna) Nah retoran ini dikelola oleh bu Lis, panggilan akrabnya Listiorini.


Nontom bioskop jaman dulu

Gedung bioskop jaman dulu besar-besar, bisa memuat sampai seribu penonton. Bioskop Sriwedari, Solo, bahkan bisa menampung lebih seribu orang. Berbeda dengan Cineplex sekarang, dimana satu gedung terdiri dari beberapa ruangan kecil yang bisa memutar sampai lima film sekaligus. Dulu nonton bioskop pakai kelas: kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 paling depan atau disebut kelas kambing. Kelas satu sering dibangun di lantai 2, sejajar dengan proyektor, namanya loge. Sampai SMA saya kalau nonton selalu kelas kambing, yang paling murah.

Walaupun gedungnya besar-besar, tetapi kalau pas lagi film bagus sering tidak kebagian karcis. Untuk film yang diputar jam 5 kita harus mulai antri jam 3. Kita sering baru nonton setelah film diputar beberapa hari, cari yang lebih longgar antri karcisnya. Hanya saja sering keduluan sama teman-teman, jadi bikin tambah penasaran saja. Yang seangkatan dengan saya tentu masih ingat film-film western seperti : Last train from from Gun Hill (Kirk Douglas), Gun fight at OK Corral (Burt Lancaster), Shane (Alan Ladd), High noon (Gary Cooper), Giant (Rock Hudson dan James Dean), Rio Bravo (John Wayne, Dean Martin dan Ricky Nelson). Untuk film-film detektif : Vertigo (James Stewart), North by the northwest (Gary Grant), The man who knew too much (James Stewart). Untuk film-film musikal : April Love (Pat Boone), Love me tender, King Creole, Blue Hawai, GI Blues yang semuanya dibintangi Elvis Presley.

Pembatasan usia penonton juga ketat. Film dibagi menjadi 3 kategori: segala umur, 13 tahun dan 17 tahun keatas. Anak-anak yang masih dibawah umur jangan harap bisa nonton film 17 tahun keatas. Saking kepenginnya nonton film 17 tahun, begitu masuk SMA saya langsung membuat kartu pelajar dengan usia dituakan 2 tahun. Sekarang nampaknya sangat longgar, anak-anak SMP kelihatan bebas nonton film orang dewasa.


Film-film favorit

Ada beberapa film yang sangat saya sukai, sehingga sudah puluhan kali saya tonton tetap saja tidak pernah bosan. Salah satunya, The Ten Commandments (dibuat tahun 1956), atau Sepuluh Perintah Tuhan yang dibintangi Charlton Heston dan aktor gundul Yul Brynner. Film ini mengisahkan tentang kehidupan nabi Musa, sejak dari lahirnya, dipelihara raja Firaun, memperoleh kenabiannya di gunung Sinai sampai pembebasan umat Yahudi dari perbudakan Fir’aun. Film dengan basis kisah dari Injil ini ternyata banyak mengambil bahan-bahan dari Al Qur’an untuk melengkapi detil kehidupan nabi Musa. Sebagai film kolosal film ini melibatkan ribuan pemain figuran, karena pada waktu itu belum ada tehnologi animasi komputer. Adegan yang dianggap paling spektakuler adalah pada waktu Musa sampai dipinggir laut dan harus membelah laut untuk bisa terus menyeberang, menghindari kejaran tentara Fir’aun.

Film favorit yang lain adalah Ben Hur (1959) yang dibintangi Charlton Heston dan Stephen Boyd. Film yang juga berbasis kisah Injil ini, bercerita tentang seorang pangeran Yahudi, Yudah Ben-Hur dari Yudea, (dimainkan oleh Charlton Heston) yang dihianati oleh teman mainnya sejak kecil, Messala (dimainkan oleh Stephen Boyd), yang belakangan menjadi penguasa Romawi dan diangkat sebagi Gubernur Yudea.. Karena kesalahan kecil, Ben Hur dihukum, dijadikan budak dan dibuang oleh Messala. Ben Hur akhirnya bisa membebaskan diri dan kembali ke negrinya untuk membalas dendam. Adegan yang menarik adalah balap kereta kuda (chariot) yang diikuti oleh Ben Hur dan Messala.

Namun diantara film-film yang saya gemari, yang saya tidak pernah bosan adalah Godfather part 2(1974), yang dibintangi Al Pacino dan Robert de Niro. Film ini,yang dibuast atas dasar novel Mario Puso, mengisahkan tentang kehidupan mafia Italia di Amerika. Khusus di bagian ke 2 ini ada flashback dari Vito Corleone kecil, remaja , sampai menjadi Don atau Godfather. Setting, property, kostum sampai make-up dibuat dengan sangat detil. Kita seolah-olah benar-benar dibawa ke alam Sisilia atau suasana kota New York awal abad ke 20.


Film dan visualisasi sejarah

Saya selalu kagum dengan mereka yang terlibat dalam pembuatan film. Bukan hanya artisnya, utamanya pada mereka yang terlibat dalam desain produksi, penulis naskah, property, perancang kostum, pembuat efek khusus dls. Mereka dapat menghadirkan suasana ribuan tahun yang lalu dihadapan kita. Mereka membantu kita mem-visualisaikan peristiwa-peristiwa sejarah dengan sangat nyata. Tokoh-tokoh perfilman, seperti George Lucas atau Steven Spielberg, seharusnya mendapat hadiah Nobel untuk karya-karya filmnya. Dari kisah di kitab suci kita hanya membaca bahwa Nabi Musa mendapat wahyu pertama di gunung Sinai. Dari film kita bisa membayangkan bagaimana kira-kira peristiwa turunnya wahyu tersebut terjadi. Di agama Islam orang yang mengumandangkan adzan disebut muadzin atau bilal. Dari film The Message, kisah tenatng Nabi Muhammad, kita bisa melihat ternyata bilal (nama aslinya Bilal ibn Rabah atau Bilal al-Habeshi) adalah nama budak kulit hitam asal Etiopia sebagai orang yang pertama diangkat sebagai muadzin resmi oleh Nabi Muhammad saw. Setiap kali waktu sholat tiba dia harus berlari-lari mencari tempat yang tinggi untuk melantunkan adzannya. Dari film How the west was won kita bisa membayangkan betapa beratnya dan kejamnya perjuangan para penetap (settlers) yang akan mencari daerah baru di Amerka barat. Kita juga dapat lebih memahami mengapa Napolean, yang tentaranya dan perlengkapannya lebih kuat, sampai kalah dari Rusia setelah melihat film War and Peace(Leo Tolstoy, 1956).

Sayang tidak banyak dibuat film Indonesia yang berlatar belakang sejarah, sehingga kita tidak bisa mengagumi kebesaran nenek moyang kita dimasa lalu. Kebesaran kerajaan Majapahit yang mampu mengarungi samudra samapai ke Madagaskar pasti sangat menarik untuk difilmkan. Bagaimana dinasti Syailendra membangun candi Borobudur di abad ke 8 juga susah dibayangkan. Raja Melayu Samudra Pasai yang armada lautnya menguasai selat Malaka hanya dapat kita baca di buku-buku sejarah saja.


Dimana melihat film-film lama?

Waktu saya sekolah di Amerika, disana terdapat stasiun TV yang khusus memutar film-film lama. Saya sempat menonton film-film cowboy dengan bintang-bintang seperti Roy Rogers, Ronald Reagan, John Wayne ketika masih muda. Di Indonesia sekarang semakin jarang melihat TV yang memutar film-film lama. Kalau adapun kondisi film sudah mulai rusak, sehingga kurang bisa dinikmati. Banyak film-film tahun 50-60an yang bagus-bagus. Generasi saya tentu masih ingat film-film seperti : 8 Penjuru angin dan Pejuang (Bambang Hermanto), Krisis, Lewat jam malam, 3 dara (Indriati Iskak, MiekeWijaya, Chitra Dewi), Pulang (Turino Junaedi), Hari libur (Bing Slamet). Saya kawatir anak-anak dan cucu-cucu kita tidak pernah tahu bahwa bangsa ini pernah memproduksi film-film besar dan bagus. Sayang.

Minggu, 14 September 2008

Mengurangi resiko kecelakaan di lintasan KA

Kecelakaan di lintasan kereta api (KA) sudah sering sekali terjadi. Sampai saat ini barangkali sudah ratusan jiwa melayang akibat tabrakan di lintasan KA. Umumnya yang terjadi adalah kendaraan yang melewati lintasan tanpa palang pintu, dirabrak kereta yang sedang lewat. Dapat juga terjadi petugas lintasan lalai tidak menutup palang pintu ketika KA akan lewat. Namun tidak sedikit pengendara masih nekad menrobos ketika lampu peringatan sudah menyala atau bahkan ketika palang pintu sudah ditutup. Untuk kasus pertama dan kedua, umumnya fihak PT Kereta Api Indonesia yang disalahkan, karena menyediakan palang pintu dan menutup pada waktunya adalah kewajiban PT KAI. Beberapa petugas lintasan pernah diadili karena dianggap lalai menjalankan tugasnya hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang. Namun, secara lembaga PT KAI belum pernah dituntut secara class action untuk membayar kompensasi kepada korban. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencari siapa yang salah, namun untuk mendidik masyrakat bagaimana seharusnya menyikapi lintasan KA agar terhindar dari kecelakaan.

Kondisi lintasan KA di Indonesia
Angkutan KA masih merupakan moda transportasi umum antar kota untuk sebagian besar masyarakat kita. Untuk kereta ekonomi masih relatif murah dan terjangkau bagi masyarakat bawah. Jangan tanya kondisi kereta, kenyaman dan keamanannya. (Orang Madura bilang : "Murah kok minta aman.") Untuk kereta bisnis dan eksekutif cukup nyaman, santai dan tidak terlalu membuat orang buru-buru. Sebagian besar kota-kota di Indonesia, khususnya di Jawa, dihubungkan dengan jalur KA. Bahkan di jaman Belanda dulu, ketika kendaraan roda empat belum banyak tersedia, hampir seluruh kota dihubungkan oleh jaringan KA. Sesudah mobil-mobil masuk ke Indonesia, jalur-jalur KA banyak yang ditutup. Bandingkan dengan Jepang, negara yang sangat maju sistem transportasinya, dimana jaringan KA justru dipetahankan sampai ke pelosok-pelosok desa.
Tidak bisa dihindarkan jalur-jalur KA tersebut akan sering bertemu dengan lintasan jalan untuk kendaraan umum. Konsekuensinya, diperlukan palang pintu lintasan dan petugas penjaganya. Bisa dibayangkan berapa ribu lintasan yang harus dibangun dan berapa ribu petugas lintasan KA yang harus direkrut. Beberapa palang pintu secara otomatis menutup sendiri karena sudah dilengkapi sensor elektronik untuk memperingatkan adanya KA yang akan lewat, sehingga tidak memerlukan petugas penjaga lagi. Namun jumlahnya masih sedikit sekali. Didalam kenyataannya cukup banyak lintasan KA yang tidak dilengkapi palang pintu. Kita ambil contoh untuk jallur antara Brebes sampai Batang, dari 167 perlintasan KA yang ada terdapat 34 lintasan yang tidak dilengkapi dengan palang pintu.
PT KAI angkat tangan soal keberadaan 2.500 lintasan kereta api liar dan 2.000 lintasan resmi tak berjaga di wilayah Jawa. Dipastikan selama Ramadan dan Lebaran, lintasan liar dan resmi tak berjaga itu tidak akan mendapat jatah tenaga jaga. Alasannya, KAI hanya fokus mengawasi 2.300 lintasan resmi dari total lintasan KA sebanyak 6.800.
Kita baru membicarakan palang pintu lintasan, belum lagi petugas penjaga lintasan. Idealnya, untuk satu lintasan KA, dibutuhkan empat penjaga. Dengan begitu, butuh delapan ribu penjaga baru untuk menjaga dua ribu lintasan resmi yang belum terjaga. Kondisi tersebut sangat sulit. Sebab, delapan ribu tenaga tidaklah sedikit. Sementara kemampuan PT KAI baru menyentuh 2.300-an. Ini saja membutuhkan tenaga tak sedikit. Banyak dari penjaga lintasan ini yang belum diangkat sebagai pegawai tetap, harus bekerja sampai 12 jam per hari dengan honor sekitar Rp900 ribuan.
Jadi kesimpulan pertama, sebagai pengguna jalan keamanan kita setiap kali melintas pintu KA tidak dapat menegandalkan kepada adanya palang pintu maupun petugas penjaganya. Sebagai pengendara harus meningkatkan kewaspadaan, kehati-hatian dan merubah pola pikir (midset) dalam menyikapi palang pintu KA.

Bagaimana di Amerika?
Di Amerika, untuk didalam kota jalur KA hampir tidak pernah muncul dipermukaan, karena harus masuk dibawah tanah. Begitu keluar kota, sama dengan di Indonesia, jalur KA harus bertemu dan sering bersilangan dengan jalur kendaraan umum. Perbedaannya, tidak ada satupun lintasan KA yang dilengkapi dengan palang pintu maupun dijaga oleh petugas. Bayangkan harus merekrut berapa puluh ribu orang untuk menjaga lintasan KA diseluruh Amerika. Belum lagi berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menggaji penjaga lintasan ini. Untuk gambaran, upah minimum per jam antara $5 sampai $8.
Perbedaaannya lagi dengan Indonesia, disana hampir tidak pernah terjadi kecelakaan di lintasan pintu KA. Di Amerika. lintasan KA dengan segala peringatannya adalah bagian dari rambu-rambu lalulintas. Sebagai rambu bermakna suatu perintah atau larangan bagi pengguna jalan. Dalam teori berkendara di Amerika, rambu lintasan KA artinya pengendara harus berhenti sesaat ( 1 sampai 2 detik) ketika sampai di lintasan KA, melihat kekiri dan kanan, sebelum melanjutkan perjalanan. Perintah untuk "berhenti sesaat" ini tetap berlaku tanpa melihat apakah jalur sedang menunggu KA yang akan lewat, atau sedang kosong sama sekali. Jadi kalau lintasan sedang kosong tetapi kita terus melaju saja tanpa berhenti, maka dianggap melakukan pelanggaran lalulintas.

Perubahan pola pikir: pintu lintasan adalah rambu lalulintas
Pola pikir bahwa pintu lintasan akan aman karena dilengkapi dengan palang pintu dan ditunggu penjaga harus mulai dirubah. Kita harus realistis cukup banyak lintasan KA yang tidak dilengkapi dengan palang pintu. Yang dilengkapipun banyak yang tidak berfungsi dengan baik. Perubahan pola pikir harus datang dari pengendara dulu. Setiap kali kita bertemu dengan lintasan KA, baik yang ada palang pintunya maupun tidak, kita harus sudah berniat untuk "berhenti sejenak", tengok kiri tengok kanan, sudah aman baru maju lagi. Resikonya kita dikklaksonan oleh pengendara-pengendara dari belakang. Tapi tetap lebih baik daripada ditabrak KA. Di sebagian lintasan KA sudah banyak kita jumpai rambu-rambu yang mengingatkan pengendara untuk mengikuti aturan "berhenti sejenak". Namun ini perlu ditegakkan (enforce) dengan memasukkan kedalam peraturan lalulintas beserta sangsi bagi yang melanggarnya. Yang berwenang juga bisa membantu membuat polisi-polisi tidur kecil (jalur-jalu kecil seperti di jalan tol setiap melewati daerah rawan kecelakaan) yang tidak terlalu tinggi, untuk mengingatkan penngendara setiap mendekati lintasan KA. Tentu akan ada yang berkomentar sinis, yah orang Indonesia mana mau diatur disuruh disiplin. Biarlah mereka yang tidak disiplin. Kalau mereka tetap tidak mengikuti aturan dan ketabrak KA, saya akan katakan "You asked for it". Bagi anda-anda yang sebentar lagi akan mudik memggunakan jalan raya, agar selamat sampai ke tujuan harap ikuti aturan "berhenti sejenak" setiap kali ketemu lintasan KA, tanpa melihat apakah dilengkapi dengan palang pintu atau tidak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Selasa, 09 September 2008

Puasa yang khusuk

quran bismillah


Perintah untuk menjalankan puasa terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :
"Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la allakum tataquun"

“ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa."

Dalam bulan Ramadhan ini sebagian besar rakyat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Ada bermacam-macam motivasi orang beribadah. Umumnya kita berpuasa karena kita menyadari bahwa itu sebagai suatu kewajiban, seperti kewajiban sholat, zakat, atau haji. Tetapi ada juga orang yang melaksanakannya karena terpaksa. Kita ambil contoh sholat. Ada orang yang sholat karena terpaksa. Mengaku sebagai orang Musllim malu kalau tidak sholat. Jadi dia hanya sholat pada hari Jum'at saja atau kalau pas Lebaran, sholat Ied. Pada hari-hari lain dia tidak sholat, toh tidak ada yang tahu. Atau, ada yang sholat kalau lagi dirumah mertua karena takut sama mertua. Atau, anak-anak yang dipaksa sholat. Ada juga yang naik Haji karena malu, teman-teman sekantor, saudara-saudara sudah naik Haji semua. Ibadah yang dilakukan karena terpaksa pasti dirasakan berat sedkali, merupakan beban dan dijamin tidak khusuk.
Ada sebagian orang lain yang beribadah karena memang menyadari itu sebagai kewajiban, sebagaimana yang disyaratkan dalam rukun Islam. Karena sudah menyadari sebagai kewajiban maka rasanya enteng-enteng saja dalam melaksanakannya. Kalau lupa atau tidak sempat sholat ada rasa berdosa.
Namun sebetulnya yang lebih baik seharusnya kita menjalankan ibadah karena sudah merupakan suatu kebutuhan rohani. Bagi kelompok ini, melaksanakan sholat dirasakan sebagai sesuatu kegiatan yang dapat memberikan kenikmatan, kedamaian dan ketentraman jiwa. Ada sesuatu yang terasa kurang kalau waktu sholat tiba tapi kita tertunda-tunda melakukannya. Seperti orang yang biasa minum kopi tiap pagi, tapi sampai siang belum minum juga. Untuk orang-orang semacam ini, kalau sampai ketiduran padahal belum sempat sholat I'sa maka pada tengah malam serasa ada yang membangunkan untuk sholat I'sa. Ada yang pulang naik Haji kapok, tidak mau kesana lagi. Ini karena hajinya dijalankan dengan rasa terpaksa, jadi terasa berat. Sebaliknya ada yang setiap musim Haji selalu ingin lagi berangkat ke tanah suci, walaupun sudah naik haji berkali-kali

Puasa karena terpaksa
Begitu pula dalam ibadah puasa. Banyak yang berpuasa karena terpaksa. Sama seperti sholat, mengaku KTP-nya Islam kok nggak puasa, malu dong. Apalagi orang-orang dirumah, dikomplek, dan dikantor puasa semua. Bagaimana ciri-cirinya orang yang berpuasa karena terpaksa? Memang kita tidak boleh su'udon, hanya Allah Swt. yang mengetahui niat seseorang didalam menjalankan ibadah. Namun dari cara seseorang menyikapi datangnya bulan Ramadhan dapat sedikit terdekteksi. Orang-orang type ini sangat sedih kalau Ramadhan tiba, dan senang sekali kalau Lebaran sudah semakin dekat. Sehari menjelang puasa bisasanya akan pesta, makan-makan sepuasnya, seolah-olah esok hari the end of the world dimana tidak akan ada makanan sama sekali. Jam-jam menunggu datangnya bedug Maghrib diisi dengan membayangkan apa yang akan dimakan nanti. Bahkan sejak jam 2 siang sudah mulai mengumpulkan makanan yang akan digunakan untuk berbuka. Begitu terdengar adzan Maghrib langsung menyerbu meja makan, semuanya dilahap habis, balas dendam karena merasa telah kelaparan seharian.
Di Indonesia nampaknya yang banyak kelompok ini. Ini terbukti dalam bulan Ramadhan pengeluaran untuk bahan makanan meningkat drastis. Harga-harga kebutuhan pokok dan makanan melambung tinggi, angka inflasi naik. Secara teori seharusnya konsumsi makanan berkurang karena kita seharian mengurangi makan. Yang terjadi justru sebailknya, konsumsi makanan meningkat baik dari segi kuantitas maupun jenisnya. Makanan-makanan yang dibulan-bulan lain sulit dijumpai, dibulan puasa ini ada semua.
Ungkapan "Marhaban ya Ramadhan" hanya berlaku untuk orang-orang yang merindukan datangnya bulan Ramadhan. Orang-orang beriman yang menunggu-nunggu datangnya bulan suci ini, dan menangis ketika akan ditinggalkan Ramadhan.

Agar lebih khusuk puasanya

Beberapa tahun terakhir ini saya hampir tidak pernah memenuhi undangan berbuka puasa. Saya takut tidak bisa khusuk lagi dalam menjalankan ibadah puasa. Undangan berbuka puasa, khususnya kalau kantor yang menyelenggarakan, selalu dipenuhi berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Ketika menunggu buka saya tidak bisa mencegah pikiran saya untuk tidak memikirkan makanan yang lezat-lezat tersebut. Bahkan sejak berangkat dari rumahpun yang kebayang hanya makanan saja.
Dirumah saya juga tidak pernah minta dimasakkan menu khusus untuk buka. Tidak ada perubahan menu, atau tambahan snack selama bulan Ramadhan. Apapun yang dimasakkan istri saya, saya makan dengan senang dan ikhlas. Apakah rasanya terlalu asin, kemanisan, atau terlalu asem, tidak pernah saya menegornya. Khiusus dibulan suci ini saya tidak ingin ibadah saya terganggu hanya karena soal makanan. Walaupun perut tersa lapar, tenggorokan terasa haus, saya berusaha untuk tidak memikirkan makanan sama sekali. Saya merasa dengan cara ini saya dapat lebih khusuk dalam menjalankan ibadah puasa.